Suatu sore, saat hujan turun cukup deras, seorang ibu mendengar ada ketukan di pintunya. Rumahnya memang berada di dekat jalan, sehingga bila hujan-hujan seperti ini, ada saja orang yang singgah untuk berteduh. Dan itu membuatnya kadang-kadang jengkel, karena emper rumahnya menjadi kotor oleh lumpur di sepatu orang-orang itu. Dan...., kejengkelannya menjadi semakin besar ketika ia mendengar ketukan itu, “Apakah sekarang mereka mau masuk ke dalam rumah ini untuk berteduh?” gerutunya. Ibu itu membuka pintunya sedikit dan dengan kasar ia bertanya, “Apa yang Anda inginkan?”
Di depan pintunya, berdiri seorang wanita setengah baya dengan titik-titik air di mantelnya, dan memohon, “Bolehkah saya meminjam payung?” “Tunggu sebentar,” ujar ibu itu. Lalu ia membanting pintu dan pergi mencari payung rusaknya. Payung itu sudah patah satu jerujinya dan berlubang-lubang. Dia membuka pintu sedikit dan menyorongkan payung itu. Wanita itu menerima payungnya, mengucapkan terima kasih dan meneruskan perjalanannya.
Keesokan harinya, pada saat matahari bersinar cerah, ibu itu melihat kereta kerajaan dengan beberapa pengawal berhenti di depan rumahnya. Dan wanita yang kemarin dipinjaminya payung rusak itu duduk di atas dengan pakaian kebesaran seorang ratu. Salah seorang pengawal mendekati si ibu dan sambil menyodorkan payung rusak itu si pengawal berkata, “Ibu, Ratu Inggris mengucapkan terima kasih atas pinjaman payungnya.” Si Ibu hanya termangu, Ratu itu mengangguk sedikit kepadanya dan memerintahkan pengawal untuk berjalan. Si Ibu bergumam, “Andai saja saya tahu, saya akan memberinya payung yang terbaik...”
Perkataan yang sama mungkin juga diucapkan oleh orang yang kepadanya Tuhan Yesus berkata “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku...” (Matius 25:40). Kini kita tidak perlu berkata, “Andai saja aku tahu....” sebab Rahasia itu telah diungkapkan kepada kita. Maka marilah kita melakukan perbuatan kasih atau kebaikan kepada setiap orang yang membutuhkannya. Biarlah kasih dan kebaikan kita mendarah daging di dalam diri kita, sehingga kita mengalirkannya kepada siapapun, tanpa harus tahu siapa orang itu, sebab sesungguhnya itu kita lakukan untuk Tuhan!
Di depan pintunya, berdiri seorang wanita setengah baya dengan titik-titik air di mantelnya, dan memohon, “Bolehkah saya meminjam payung?” “Tunggu sebentar,” ujar ibu itu. Lalu ia membanting pintu dan pergi mencari payung rusaknya. Payung itu sudah patah satu jerujinya dan berlubang-lubang. Dia membuka pintu sedikit dan menyorongkan payung itu. Wanita itu menerima payungnya, mengucapkan terima kasih dan meneruskan perjalanannya.
Keesokan harinya, pada saat matahari bersinar cerah, ibu itu melihat kereta kerajaan dengan beberapa pengawal berhenti di depan rumahnya. Dan wanita yang kemarin dipinjaminya payung rusak itu duduk di atas dengan pakaian kebesaran seorang ratu. Salah seorang pengawal mendekati si ibu dan sambil menyodorkan payung rusak itu si pengawal berkata, “Ibu, Ratu Inggris mengucapkan terima kasih atas pinjaman payungnya.” Si Ibu hanya termangu, Ratu itu mengangguk sedikit kepadanya dan memerintahkan pengawal untuk berjalan. Si Ibu bergumam, “Andai saja saya tahu, saya akan memberinya payung yang terbaik...”
Perkataan yang sama mungkin juga diucapkan oleh orang yang kepadanya Tuhan Yesus berkata “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku...” (Matius 25:40). Kini kita tidak perlu berkata, “Andai saja aku tahu....” sebab Rahasia itu telah diungkapkan kepada kita. Maka marilah kita melakukan perbuatan kasih atau kebaikan kepada setiap orang yang membutuhkannya. Biarlah kasih dan kebaikan kita mendarah daging di dalam diri kita, sehingga kita mengalirkannya kepada siapapun, tanpa harus tahu siapa orang itu, sebab sesungguhnya itu kita lakukan untuk Tuhan!
Komentar