Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Arsip 2005

Menularkan Keberanian

Seorang ibu pernah berkata, “Bagaimanapun anak-anak saya bersalah, saya akan membelanya mati-matian di depan orang, meski mungkin sesampainya di rumah saya akan menggebuknya habis-habisan!” kedengarannya sangat egois dan kejam, bukan? Tapi yang dimaksudkan ibu itu bukanlah supaya anak-anaknya boleh dengan bebas melakukan kesalahan-kesalahan, melainkan ia ingin menanamkan dalam diri anaknya-anaknya, bahwa bila mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan itu benar, maka anak-anaknya itu harus maju terus dengan berani, dan tidak usah takut pada pendapat orang banyak. Sikap yang sama dilakukan oleh ayah Gideon ketika Gideon ketahuan penduduk kampungnya telah menghancurkan segala perlengkapan penyembahan dewa Baal. Ketika Gideon dicecar dan dituntut pertanggung-jawabannya - Yoas, ayahnya, maju ke depan dan membela puteranya itu. “Kalau Baal memang berkuasa, biarlah ia membela dirinya sendiri!” seru Yoas(Hakim 6:31). Bisa jadi bahwa Yoaspun sudah lama tidak setuju dengan penyembahan berhala i...

Menjadi sempurna

Menurut beberapa ahli, cara penilaian terhadap murid-murid sekolah dengan berdasarkan sistem rangking, sebetulnya tidak adil dalam menilai perkembangan anak. Sebab sistem rangking mengabaikan perkembangan anak secara individu. Mestinya setiap anak dinilai berdasarkan kemajuan dan perkembangan mereka sendiri. Sehingga meski seorang murid misalnya, tidak mendapatkan nilai yang sempurna, tetapi apabila nilai itu sudah menunjukkan kemajuannya dari yang lalu, maka ia patut mendapat penghargaan. Kepada setiap anak-anak-Nya, Tuhan berkata, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di Sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48). Wah, berat sekali perintah Tuhan ini, mustahillah kita memenuhinya, begitu mungkin pikir kita. Kita adalah manusia yang lemah dan penuh keterbatasan. Bagaimanakah kita akan sanggup melakukan semua perintah-Nya? Sebaik-baiknya orang, pasti ada juga kekurangannya. Mungkin ia orang yang memiliki sifat ramah, tetapi belum tentu ia murah hati. Mungkin seseorang bisa men...

Kasih, pengikat yang terkuat

Kita diikat dengan berbagai-bagai macam ikatan. Ikatan itu bisa berupa ikatan darah, ikatan keluarga besar, ikatan perkawinan, ikatan persahabatan, ikatan kerja, dan lain-lain. Tetapi, perhatikanlah, mungkin ini juga menjadi pengalaman Anda sendiri, bahwa ikatan-ikatan itu tidak menjamin kedekatan kita dengan orang-orang. Ikatan darah kita dengan saudara kandung misalnya, belum tentu membuat hubungan kita dengannya bisa akrab. Ikatan persahabatan yang paling karib pun, tidak bisa menjamin bahwa suatu saat tidak akan terputus. Demikian juga dengan ikatan perkawinan. Seerat apapun kita diikat, ikatan itu bukanlah jaminan untuk mendekatkan kita dengan orang-orang. Satu-satunya pengikat yang mampu merekatkan kita dengan orang-orang adalah kasih. Itu sebabnya, sepasang suami-istri yang semula tidak saling mengenal, tidak punya hubungan apa-apa, tapi karena di antara mereka ada kasih, maka hubungan mereka bisa berlangsung lama bahkan sampai maut datang menjemput. Demikian juga, dua orang yan...

Telur dan ayam

Ada sebuah pertanyaan klasik yang cukup menarik. Pertanyaan itu berbunyi demikian: manakah yang lebih dulu ada, telur ataukah ayam? Biasanya, kalau kita menjawab ayam, maka si penanya akan bertanya kembali, “tetapi kan ayam lahir dari telur?” tapi kalau kita menjawab telur, maka pertanyaan yang muncul berikut adalah, bukankah telur hanya dikeluarkan oleh ayam? Pertanyaan itu membingungkan, kalau kita hanya memfokuskan perhatian pada si ayam dan telur itu. mestinya kita kembali pada karya penciptaan Allah, bahwa Allah tidak menciptakan telur, melainkan ayamnya. Nah, dalam pola ini, marilah kita memahami nasehat Amsal 29:18 “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” Istilah Wahyu di sini adalah berarti penyingkapan makna Firman Allah kepada seseorang, sehingga ia mengerti apa sangkut paut Firman itu dengan kehidupannya. Nah, jadi bila ayat ini kita uraikan, maka persoalan yang timbul adalah: Manakah yang benar: orang menjadi liar karena...

Apapun yang terjadi, bersyukurlah!

Suatu hari, dua orang anak sedang bermain di padang. Selagi mereka bermain, entah karena apa, tiba-tiba seekor banteng berlari ke arah mereka dengan marah. Kedua anak itu pun lari pontang panting. Kemudian mereka memanjat masing-masing sebuah pohon besar. Banteng itu menunggu di bawah, agaknya mereka tidak akan lolos. Maka salah seorang berteriak, “Lakukanlah sesuatu!” “Apa yang harus aku lakukan?” Balas temannya, “Aku sendiri sangat takut. Banteng itu tampaknya sangat marah.” “Kalau begitu, setidaknya berdoalah!” Teriak anak yang pertama. “Aku tidak pandai berdoa!” Jawab temannya dari jauh, “Tapi baiklah aku akan mengucapkan doa yang diucapkan ayahku setiap pagi: Ya Tuhan ajarlah kami bersyukur atas apapun yang akan terjadi hari ini!” Kita memang tidak tahu apakah yang akan terjadi di dalam hidup kita hari ini ataupun esok hari. Kalau menyenangkan, mungkin kita akan bersyukur dengan segenap hati. Tetapi bagaimana kalau hari kita ternyata begitu buruk, atau hari esok demikian tak menen...

Melihat dalam bingkai Allah

Dua foto yang sama saya lihat di rumah dua orang teman yang berbeda. Hasilnya sungguh jauh berbeda. Yang satu memberi kesan suram, meski kami semua di dalamnya tersenyum ceria. Namun di kamar teman yang satunya lagi, foto itu tampak lebih indah. Apakah yang membedakannya? Setelah kami bandingkan, ternyata perbedaannya adalah pada bingkai foto itu. Yang satu ditaruh dalam bingkai tua, bulat dan hitam, dan yang satunya lagi ditaruh di dalam bingkai persegi yang masih baru, dan berwarna keemasan. Bayangkkan, satu objek, menimbulkan kesan yang sangat jauh berbeda, hanya karena ditempatkan dalam bingkai yang berbeda. Itulah yang terjadi ketika Musa mengirim 12 pengintai untuk pergi mendahului bangsa Israel ke Tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan untuk mereka. Di antara 12 pengintai itu adalah Kaleb dan Yosua. Selam 40 hari, mereka mengintai penduduk kota dan keadaan negeri itu, maka pulanglah mereka dan melaporkan hasilnya pada angsa Israel. Ke-10 yang lain berkata, bahwa mereka tidak mungkin...

Kasih mengalahkan penghakiman

Natalie Glebova, seorang perempuan cantik dan cerdas asal Kanada, ketika ditanya apa tantangan terbesar dalam hidupmu? Dengan mantap ia menjawab: “Berpikir positif! Saya selalu berusaha untuk melihat gelas setengah penuh dan bukan gelas setengah kosong, katanya. Dan jawaban itulah yang menghantarkannya melenggang sebagai putri sejagad atau Miss Universe 2005. Tantangan untuk melihat gelas setengah penuh dan bukan gelas setengah kosong, juga terdapat dalam kehidupan kita sebagai orang beriman. Terhadap orang-orang, seringkali kita lebih melihat kegagalan-kegagalan serta kesalahan-kesalahan mereka ketimbang sebagai orang yang juga adalah sasaran kasih Allah. Kita seringkali tergoda untuk menjadi hakim-hakim kecil atas nama Allah, dan melupakan tugas utama kita sebagai umat Allah. Dalam 2 Tim 4: 1-5 dikatakan, bahwa Allah adalah hakim satu-satunya atas orang-orang yang hidup dan yang mati. Kita ini, hanyalah pelayan-pelayan yang - atas anugerah Allah semata-mata - dipilih untuk memberitak...

Ayo, kamu bisa!

“Ayo, kamu bisa!” adalah seruan yang pernah sangat populer di kalangan anak-anak muda kita. Seruan ini biasanya diserukan kepada orang-orang yang sedang berjuang meraih sesuatu, tetapi telah kehilangan semangatnya. Saat kita berseru kepada orang itu, “Ayo kamu bisa!” maka orang tersebut bangkit kembali semangatnya, karena ia tahu bahwa ada orang yang mendukung dan mengharapkannya. Kita dengan takjub memandang orang-orang yang telah dipilih Allah melakukan perkara-perkara yang besar dalam sejarah Kerajaan Allah. Padahal mereka juga adalah orang-orang biasa saja, yang juga mempunyai kekurangan serta kerapuhan yang sama dengan kita. Marilah kita merenungkan kehidupan Gideon. Pada zaman Gideon, umat Israel telah menikmati hasil-hasil Tanah Perjanjian, yakni tanah subur yang Tuhan dulu janjikan bagi nenek moyang mereka. Tapi mereka bukan hanya menikmati hasil-hasil tanah itu, mereka juga menyembah dewa kesuburuan penduduknya. Karena itu, Allah membuat kesejahteraan mereka tidak berlangsung ...

Menularkan Keberanian

Seorang ibu pernah berkata, “Bagaimanapun anak-anak saya bersalah, saya akan membelanya mati-matian di depan orang, meski mungkin sesampainya di rumah saya akan menggebuknya habis-habisan!” kedengarannya sangat egois dan kejam, bukan? Tapi yang dimaksudkan ibu itu bukanlah supaya anak-anaknya boleh dengan bebas melakukan kesalahan-kesalahan, melainkan ia ingin menanamkan dalam diri anaknya-anaknya, bahwa bila mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan itu benar, maka anak-anaknya itu harus maju terus dengan berani, dan tidak usah takut pada pendapat orang banyak. Sikap yang sama dilakukan oleh ayah Gideon ketika Gideon ketahuan penduduk kampungnya telah menghancurkan segala perlengkapan penyembahan dewa Baal. Ketika Gideon dicecar dan dituntut pertanggung-jawabannya - Yoas, ayahnya, maju ke depan dan membela puteranya itu. “Kalau Baal memang berkuasa, biarlah ia membela dirinya sendiri!” seru Yoas(Hakim 6:31). Bisa jadi bahwa Yoaspun sudah lama tidak setuju dengan penyembahan berhala i...

Jangan kamu kuatir

Hidup kita hari-hari ini memang semakin terasa berat saja. Harga-harga kebutuhan pokok melambung semakin tinggi. Biaya pendidikan bagi anak-anak semakin tak terjangkau, sementara itu penghasilan kita mungkin tidak naik. Lapangan pekerjaan semakin sempit. Sawah dan ladang tidak bertambah hasilnya. Laut dan sungai-sungai pun semakin tercemar. Hidup menjadi terasa sesak dan menghimpit. Situasi hidup kita saat ini pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan situasi yang dialami oleh bangsa Israel pada zaman Tuhan Yesus. Mereka juga adalah orang-orang yang miskin dan lemah. Dalam himpitan hidup mereka yang sulit, Tuhan Yesus berkata: Janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, atau apa yang hendak kamu pakai. Sebab siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (Matius 6:25-27). Memang sungguh sulit bagi pikiran manusiawi kita untuk menerima kebenaran Firman Tuhan ini pada saat kenyataannya hidup kita s...

Bakiak, simbol hidup harmonis

Bakiak, adalah sebuah permainan tradisionil, yang mementingkan kekompakan, kerjasama dan kebersamaan. Memang, dalam bermain bakiak ini harus dimainkan oleh beberapa orang. Semakin banyak orang, semakin ramai, dan semakin asyik. Bakiak terbuat dari sepasang balok kayu yang panjangnya kira-kira 1 meter. Pada permukaannya diberi sangkutan serupa sepatu atau sandal, biasanya satu bakiak untuk lima orang atau lebih. Supaya lebih seru, bermain bakiak biasanya dilombakan. Masing-masing tim harus berjalan dengan bakiaknya dalam jarak tertentu. Dibutuhkan kerjasama, kekompakan dan keharmonisan dari setiap anggota tim, agar mereka bisa melangkah maju. Bila ada satu orang saja yang tidak seirama dengan timnya, maka mereka semua akan oleng dan berjatuhan. Karena filosofi yang terkandung di dalamnya itulah, maka bakiak seringkali dijadikan simbol hidup harmonis di dalam keanekaragaman. Memang kenyataannya dalam skop yang kecil saja, seperti keluarga dan jemaat, keharmonisan hidup itu sangat sulit t...

Semua harus turun tangan

Sudah ditanamkan kepada kami sejak kecil, bahwa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, anak yang sudah besar maupun yang masih kecil, harus turun tangan dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Maka sangat tidak nyamanlah bagi saya dan saudara-saudara saya, apabila kami duduk santai atau tiduran saja, sementara orang tua kami, mengerjakan sesuatu. Biasanya, kami akan menawarkan bantuan, sekecil apapun. Memang, dengan bekerja bergotong royong, pekerjaan rumah tangga bisa cepat selesai. Tetapi saya perhatikan, rupanya maksud orang tua kami menanamkan hal itu bukan karena alasan pekerjaan itu begitu banyak, tetapi lebih kepada bagaimana menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kebersamaan di antara kami. Itu sebabnya kenapa kepada kami tidak melulu dituntut hasil, terutama bagi anak-anak yang masih kecil, sebab yang terpenting adalah bagaimana setiap orang di dalam keluarga bisa turut ambil bagian dalam pekerjaan itu. Hal yang sama diharapkan terjadi di dalam kehidupan perse...

Menghidupkan tulang-tulang mati

Ada sebuah dongeng tentang seorang perempuan tua pengumpul tulang, Laloba. Laloba, setiap hari menyusuri padang gurun yang gersang untuk mencari dan mengumpulkan tulang-tulang. Tulang apa saja ia kumpulkan, tetapi kebanyakan ia mendapatkan tulang serigala. Apabila tulang-tulang itu sudah lengkap seluruhnya, Laloba pun menyusunnya menjadi rangka, lalu ia duduk merenungkan nyanyian yang cocok, kemudian ia menyanyi dengan merdunya. Sementara ia menyanyi, otot-otot mulai tumbuh pada tulang-tulang itu, kemudian kulit dan bulu, dan akhirnya serigala itu pun hidup kembali seperti semula. Dongeng Laloba ini adalah merupakan gambaran kegelisahan manusia, yang merasakan adanya sesuatu yang mati dalam dirinya. Mungkin itu mimpi-mimpi, cita-cita, daya pikir, hasrat hidup, perasaan, kemauan, atau harapan-harapan. Sepanjang itu tidak dihidupkan kembali, maka hidup kita akan bagaikan padang gurun yang kering dan tandus. Perlu perenungan, tekad yang kuat untuk menyusun satu per satu, apa yang telah ha...

Tokoh tanpa nama

Kalau Anda memperhatikan berita-berita, terutama yang menyangkut tindak kriminal, biasanya nama si pelaku disamarkan dengan hanya menyebutkan inisialnya saja. Kita mungkin penasaran dan ingin tahu lebih lanjut tentang siapa orang itu sebenarnya. Akan tetapi itu adalah kode etik dalam dunia jurnalistik/kewartawanan yang bertujuan untuk melindungi kaum keluarga si pelaku dari akibat-akibat yang tidak diinginkan. Di dalam Alkitab, seringkali ditampilkan kisah-kisah dengan tokoh tanpa nama, tidak juga inisialnya. Itu bukanlah soal kode etik penulisan, tetapi supaya setiap pembaca atau pendengar kisah itu, bisa menempatkan dirinya pada posisi si tokoh tanpa nama itu. Misalnya, dalam kisah nabi Elia dengan seorang janda di Sarfat (1 Raj.17); Si janda, adalah gambaran kita semua yang hidup dalam kemiskinan, tak ada jaminan sosial, hanya mengandalkan pertolongan Tuhan semata-mata. Juga dalam Kisah nabi Elisa dengan janda seorang hamba Allah (2 Raj. 4:1-7); dengan tak menyebutkan nama janda itu...

Cermin yang sempurna

Dulu, semasa kecil, saya bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam di depan lampu petromaks. Karena tabung minyak lampu petromaks yang terbuat dari alumunium dan bentuknya bulat itu memiliki sifat sebagai cermin cembung yang tampak ajaib. Saya tidak bosan-bosannya memaju-mundurkan wajah, dengan mimik yang berbeda-beda, sambil tertawa-tawa mengamati pantulannya yang lucu-lucu. Tapi di kemudian hari, sama seperti orang-orang lain, saya pun kini lebih suka melihat diri di depan cermin yang lebih rata. Dan tentu yang saya harapkan bukan lagi bentuk yang lucu-lucu dan tak beraturan seperti di dalam tabung lampu petromaks itu. saya kira, kita semua tentunya ingin melihat diri kita di dalam cermin dalam keadaan yang lebih cantik, atau lebih ganteng, dan menarik. Cermin-cermin, seperti yang kita kenal sekarang, sebetulnya hanya berguna untuk menolong kita melihat dan memperhatikan penampilan luaran kita semata. Padahal keutuhan kita sebagai manusia, ditentukan pula oleh bagian dalam dari diri...

Bukan agama, tapi sikap hidup

Saudara sepupu teman saya pernah mengalami perampokan yang dilakukan oleh sopir taksi yang ditumpanginya, yang rupanya bekerja sama dengan tiga lelaki yang lain. Ia kehilangan semua uangnya, tetapi syukurlah ia tidak kehilangan nyawa. Berita tentang peristiwa itu diliput oleh beberapa stasiun televisi, tapi ada beberapa hal yang ia tidak ungkapkan di hadapan publik, kecuali kepada keluarga dan teman-teman dekat, yakni tentang isi pembicaraannya dengan 2 lelaki yang menawannya ketika dua lelaki yang lain sedang pergi ke ATM untuk mencairkan uangnya. Dalam percakapan itu, ia tahu bahwa ternyata si perampok adalah seorang anggota gereja, dan bahkan mereka juga tahu dan beberapa kali mengikuti kebaktian sebuah persekutuan di mana sepupu teman saya itu bergabung. Mungkin, itulah satu-satunya alasan mengapa ia tidak diperkosa atau dibunuh malam itu. Kristen, memang bukan sekadar agama untuk menunjukkan identitas diri kita. Orang Kristen, bukan sekadar berarti menjadi anggota sebuah gereja at...

Perantara yang tepat dan terjamin

Seorang lelaki muda berkata, bahwa untuk urusan membeli rumah, ia hanya percaya pada agent atau perantara dari perusahaan property yang terkenal. Sebab pasti mereka lebih ahli dan terpercaya. Akhirnya memang, tak lama kemudian ia sudah emnempati sebuah rumah yang bagus dan mewah. Tapi begitu musim hujan tiba, barulah ketahuan kekurangannya. Memang, rumah itu sendiri tidak terkena banjir, tetapi ia turut terkena dampak dari lingkungan sekitarnya yang tergenang sepanjang musim. Hatinya tidak tenteram. Ia pernah mendatangi perantaranya itu, dan mengajukan ketidakpuasannya, tetapi mereka tidak peduli lagi. Yah, memang itulah akibatnya kalau salah memilih agent. Kita bisa rugi dan kecewa. Tahukah Anda bahwa ada sebuah rumah yang kekal yang disiapkan oleh Allah Bapa kita di sorga? Tuhan Yesus berkata, “Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal. Dan Aku menyediakan tempat bagimu di sana....Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun be...

Tereliminasi

Tereliminasi, adalah sebuah istilah yang akhir-akhir ini semakin populer di telinga kita. Mendengar Istilah ini, kita diingatkan pada acara Akademi Fantasi Indonesia dan Indonesian Idol yang ditayangkan televisi. Orang-orang yang telah terpilih untuk masuh ke babak final, dimasukkan ke dalam sebuah karantina. Di sana mereka dilatih, dididik dan dipertajam kemampuan dan bakat-bakatnya. Di karantina itulah kesempatan mereka untuk bertanya dan belajar apa saja untuk mengasah keahliannya, karena ketika mereka sudah di panggung, mereka masing-masing harus berjuang sendiri. Dan bila tidak memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan, mereka akan gugur dan harus keluar dari ajang lomba. Anggaplah bahwa kehidupan kita di dalam dunia ini adalah masa karantina. Kita semua yang sedarah maupun yang tidak sedarah, kenal maupun tidak kenal, telah dipilih oleh Allah, dan dikumpulkan-Nya di dalam sebuah persekutuan umat Allah, dimana kita semua diperhatikan, dilatih, diajarkan berbagai peraturan-per...

Jejak-jejak kekayaan

Konon kabarnya, ada yang pernah melakukan penelitian tentang jumlah kekayaan orang-orang terkaya di dunia dan membandingkannya dengan kekayaan raja Salomo pada zaman Alkitab. Orang-orang terkaya di dunia, seperti Donal Trump, Bill Gate, yang kekayaannya tak terbayangkan itu, ternyata, tidak ada apa-apanya dibanding kekayaan Raja Salomo pada zamannya. Bayangkanlah betapa besarnya kekayaan Salomo. Akan tetapi, manakah jejak-jejak kekayaan Raja Salomo itu sekarang? Secuil pun jejaknya tidak ada lagi sekarang. Hal itu menunjukkan bahwa seberapa pun besarnya kekayaan, pada suatu saat, pada suatu waktu, pasti akan habis juga. Itu sebabnya, Tuhan Yesus berkata, tidak ada untungnya kamu mengumpulkan harta di bumi, sebab di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada di situ pula hatimu berada. (M...

Siapakah sponsornya?

Sponsor, adalah pendukung sebuah kegiatan, atau acara. Biasanya, dukungan dari sponsor itu dalam bentuk sumbangan dana, atau juga menyediakan hadiah-hadiah menarik bagi para peserta atau pemenang. Itu tampaknya sangat murah hati, tetapi bukan berarti tanpa syarat? Karena panitia harus juga tidak lupa menyebutkan atau memperkenalkan sponsor itu setiap kali mereka menyerahkan hadiah, atau ketika mengungkapkan terima kasih. Sebab bila tidak, maka sponsor itu akan kecewa, dan lain kali tidak lagi mau memberi dukungannya kepada panitia itu. Saudara, boleh dikata, seperti itulah cara Tuhan bekerja. Seperti sponsor, Tuhan memberikan manusia apa-apa yang dibutuhkannya, bahkan kadangkala melebihi apa yang kita pinta. Tetapi bukan berarti itu tidak ada syaratnya. Sebab kita harus mengucapkan syukur, dan menyiarkan tentang kebaikan DIA yang telah memberikan berkat itu. Dan bila tidak, maka ada sangsi-sangsi tertentu yang Tuhan akan jatuhkan. Seperti yang pernah dialami oleh raja Hizkia, seorang r...