Langsung ke konten utama

Kasih mengalahkan penghakiman

Natalie Glebova, seorang perempuan cantik dan cerdas asal Kanada, ketika ditanya apa tantangan terbesar dalam hidupmu? Dengan mantap ia menjawab: “Berpikir positif! Saya selalu berusaha untuk melihat gelas setengah penuh dan bukan gelas setengah kosong, katanya. Dan jawaban itulah yang menghantarkannya melenggang sebagai putri sejagad atau Miss Universe 2005.


Tantangan untuk melihat gelas setengah penuh dan bukan gelas setengah kosong, juga terdapat dalam kehidupan kita sebagai orang beriman. Terhadap orang-orang, seringkali kita lebih melihat kegagalan-kegagalan serta kesalahan-kesalahan mereka ketimbang sebagai orang yang juga adalah sasaran kasih Allah. Kita seringkali tergoda untuk menjadi hakim-hakim kecil atas nama Allah, dan melupakan tugas utama kita sebagai umat Allah. Dalam 2 Tim 4: 1-5 dikatakan, bahwa Allah adalah hakim satu-satunya atas orang-orang yang hidup dan yang mati. Kita ini, hanyalah pelayan-pelayan yang - atas anugerah Allah semata-mata - dipilih untuk memberitakan tentang kasih dan kemurahan Tuhan Allah kepada seluruh umat manusia. Namun, seringkali pikiran kita, kita penuhi dengan pikiran-pikiran yang buruk tentang orang-orang, lalu kita menilai kesalahan serta kegagalan-kegagalan mereka, sehingga hati kita menjadi kurang mengasihi.


Dalam Yakobus 2:13 dikatakan “Penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman”. Kita sendiri telah mendapatkan kasih yang sungguh besar dari kemurahan Allah di dalam Yesus Kristus. Dalam Yesus Kristus, Allah telah datang bukan untuk menghakimi atau menyalahkan kita, melainkan supaya kita memiliki kehidupan. Penghakiman yang pantas buat kita telah dilenyapkan oleh kasih dan kemurahan Allah. dan semestinya, oleh karena itulah, kita terdorong untuk berlaku yang sama terhadap sesama.


Jadi kuncinya adalah kita berpusat pada kasih Tuhan dan bukan pada betapa buruknya manusia. Hanya dengan lebih menyelami kasih dan kemurahan Allahlah, kecenderungan kita untuk menghakimi orang lain akan terkalahkan. Karena itu, Saudara, ingat-ingatlah kembali apa yang Allah telah ampuni, maklumi, perbaharui, dan pulihkan dalam hidup kita sendiri, maka seperti memandang gelas setengah penuh dan bukan gelas setengan kosong, kita akan memandang orang lain, bukan lagi sebagai orang yang patut dihukum, melainkan sebagai orang yang juga layak dikasihi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...