Bakiak, adalah sebuah permainan tradisionil, yang mementingkan kekompakan, kerjasama dan kebersamaan. Memang, dalam bermain bakiak ini harus dimainkan oleh beberapa orang. Semakin banyak orang, semakin ramai, dan semakin asyik. Bakiak terbuat dari sepasang balok kayu yang panjangnya kira-kira 1 meter. Pada permukaannya diberi sangkutan serupa sepatu atau sandal, biasanya satu bakiak untuk lima orang atau lebih. Supaya lebih seru, bermain bakiak biasanya dilombakan. Masing-masing tim harus berjalan dengan bakiaknya dalam jarak tertentu. Dibutuhkan kerjasama, kekompakan dan keharmonisan dari setiap anggota tim, agar mereka bisa melangkah maju. Bila ada satu orang saja yang tidak seirama dengan timnya, maka mereka semua akan oleng dan berjatuhan. Karena filosofi yang terkandung di dalamnya itulah, maka bakiak seringkali dijadikan simbol hidup harmonis di dalam keanekaragaman.
Memang kenyataannya dalam skop yang kecil saja, seperti keluarga dan jemaat, keharmonisan hidup itu sangat sulit tercipta, apalagi di dalam kehidupan masyarakat dan negara. Memang diperlukan niat dan kesadaran dari masing-masing orang untuk menciptakan keharmonisan itu. Diperlukan kerinduan setiap orang untuk mau membangun keharmonisan itu. Dalam Mazmur 133, Raja Daud menciptakan sebuah nyanyian yang sangat indah untuk mengajak orang merindukan keharmonisan hidup. “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya,” kata Daud, “apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.... Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya”. Kita ketahui, di dalam keluarga Daud, anak-anaknya tidak pernah hidup rukun. Mereka saling membenci dan saling bersaing untuk merebut takhtanya. Dan nyanyian ini adalah jeritan hati yang begitu rindu ingin mewujudkan kerukunan itu. Sebab katanya, di mana ada kerukunan, di mana orang hidup dengan harmonis, maka ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat-Nya.
Seperti bermain bakiak, harmonisasi itu terwujud bukan ketika kita hanya sibuk mengamat-amati lalu menghakimi kesalahan-kesalahan orang lain. Melainkan apabila kita masing-masing menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab pada diri kita sendiri, untuk menyatukan irama langkah kita dengan yang lain. Seperti kata Roma 12:18 “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”
Memang kenyataannya dalam skop yang kecil saja, seperti keluarga dan jemaat, keharmonisan hidup itu sangat sulit tercipta, apalagi di dalam kehidupan masyarakat dan negara. Memang diperlukan niat dan kesadaran dari masing-masing orang untuk menciptakan keharmonisan itu. Diperlukan kerinduan setiap orang untuk mau membangun keharmonisan itu. Dalam Mazmur 133, Raja Daud menciptakan sebuah nyanyian yang sangat indah untuk mengajak orang merindukan keharmonisan hidup. “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya,” kata Daud, “apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.... Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya”. Kita ketahui, di dalam keluarga Daud, anak-anaknya tidak pernah hidup rukun. Mereka saling membenci dan saling bersaing untuk merebut takhtanya. Dan nyanyian ini adalah jeritan hati yang begitu rindu ingin mewujudkan kerukunan itu. Sebab katanya, di mana ada kerukunan, di mana orang hidup dengan harmonis, maka ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat-Nya.
Seperti bermain bakiak, harmonisasi itu terwujud bukan ketika kita hanya sibuk mengamat-amati lalu menghakimi kesalahan-kesalahan orang lain. Melainkan apabila kita masing-masing menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab pada diri kita sendiri, untuk menyatukan irama langkah kita dengan yang lain. Seperti kata Roma 12:18 “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”
Komentar