“Ayo, kamu bisa!” adalah seruan yang pernah sangat populer di kalangan anak-anak muda kita. Seruan ini biasanya diserukan kepada orang-orang yang sedang berjuang meraih sesuatu, tetapi telah kehilangan semangatnya. Saat kita berseru kepada orang itu, “Ayo kamu bisa!” maka orang tersebut bangkit kembali semangatnya, karena ia tahu bahwa ada orang yang mendukung dan mengharapkannya.
Kita dengan takjub memandang orang-orang yang telah dipilih Allah melakukan perkara-perkara yang besar dalam sejarah Kerajaan Allah. Padahal mereka juga adalah orang-orang biasa saja, yang juga mempunyai kekurangan serta kerapuhan yang sama dengan kita. Marilah kita merenungkan kehidupan Gideon. Pada zaman Gideon, umat Israel telah menikmati hasil-hasil Tanah Perjanjian, yakni tanah subur yang Tuhan dulu janjikan bagi nenek moyang mereka. Tapi mereka bukan hanya menikmati hasil-hasil tanah itu, mereka juga menyembah dewa kesuburuan penduduknya. Karena itu, Allah membuat kesejahteraan mereka tidak berlangsung lama. Allah mendatangkan bangsa Midian untuk menghancurkan hasil-hasil panen mereka. Mereka harus menyingkir ke gunung-gunung menghindari bangsa Midian. Akibatnya, bangsa Israel kembali menderita dan melarat.
Tahukan Anda apa yang Gideon lakukan dalam situasi itu? Bersembunyi. Ya, Gideon bersembunyi di tempat pengirikan anggur ayahnya. Di tempat itu ia hanya bisa meratapi bangsanya dan mempertanyakan kuasa Allah yang kini tak lagi seperti dulu (Hak 6:13). Mungkin ia juga mengharapkan seseorang akan datang sebagai utusan Tuhan dan mengadakan perubahan bagi mereka, karena ia sendiri merasa tak berdaya. Namun, pada saat itulah Allah melangkah masuk dan mengambil peran-Nya. Gideon yang merasa tak berdaya, justru yang dipilih Allah: “Engkau adalah pahlawan yang gagah berani. Kaulah yang akan melawan orang-orang Midian itu. Jangan kamu takut. Pasti kamu bisa, karena aku, Tuhan akan menyertaimu” Kata Tuhan.
Allah akan memakai kita untuk menyelesaikan satu masalah di sekitar kita, tetapi sebelum itu Allah akan mengadakan pembaharuan di dalam diri kita dahulu. Kuncinya ialah, maukah kita, seperti Gideon - berani mengambil sikap untuk taat dan setia pada perintah Allah; dan membiarkan Allah mengalirkan kuasa-Nya untuk melakukan perkara-perkara besar melalui hidup kita?
Kita dengan takjub memandang orang-orang yang telah dipilih Allah melakukan perkara-perkara yang besar dalam sejarah Kerajaan Allah. Padahal mereka juga adalah orang-orang biasa saja, yang juga mempunyai kekurangan serta kerapuhan yang sama dengan kita. Marilah kita merenungkan kehidupan Gideon. Pada zaman Gideon, umat Israel telah menikmati hasil-hasil Tanah Perjanjian, yakni tanah subur yang Tuhan dulu janjikan bagi nenek moyang mereka. Tapi mereka bukan hanya menikmati hasil-hasil tanah itu, mereka juga menyembah dewa kesuburuan penduduknya. Karena itu, Allah membuat kesejahteraan mereka tidak berlangsung lama. Allah mendatangkan bangsa Midian untuk menghancurkan hasil-hasil panen mereka. Mereka harus menyingkir ke gunung-gunung menghindari bangsa Midian. Akibatnya, bangsa Israel kembali menderita dan melarat.
Tahukan Anda apa yang Gideon lakukan dalam situasi itu? Bersembunyi. Ya, Gideon bersembunyi di tempat pengirikan anggur ayahnya. Di tempat itu ia hanya bisa meratapi bangsanya dan mempertanyakan kuasa Allah yang kini tak lagi seperti dulu (Hak 6:13). Mungkin ia juga mengharapkan seseorang akan datang sebagai utusan Tuhan dan mengadakan perubahan bagi mereka, karena ia sendiri merasa tak berdaya. Namun, pada saat itulah Allah melangkah masuk dan mengambil peran-Nya. Gideon yang merasa tak berdaya, justru yang dipilih Allah: “Engkau adalah pahlawan yang gagah berani. Kaulah yang akan melawan orang-orang Midian itu. Jangan kamu takut. Pasti kamu bisa, karena aku, Tuhan akan menyertaimu” Kata Tuhan.
Allah akan memakai kita untuk menyelesaikan satu masalah di sekitar kita, tetapi sebelum itu Allah akan mengadakan pembaharuan di dalam diri kita dahulu. Kuncinya ialah, maukah kita, seperti Gideon - berani mengambil sikap untuk taat dan setia pada perintah Allah; dan membiarkan Allah mengalirkan kuasa-Nya untuk melakukan perkara-perkara besar melalui hidup kita?
Komentar