Langsung ke konten utama

Jejak-jejak kekayaan

Konon kabarnya, ada yang pernah melakukan penelitian tentang jumlah kekayaan orang-orang terkaya di dunia dan membandingkannya dengan kekayaan raja Salomo pada zaman Alkitab. Orang-orang terkaya di dunia, seperti Donal Trump, Bill Gate, yang kekayaannya tak terbayangkan itu, ternyata, tidak ada apa-apanya dibanding kekayaan Raja Salomo pada zamannya. Bayangkanlah betapa besarnya kekayaan Salomo. Akan tetapi, manakah jejak-jejak kekayaan Raja Salomo itu sekarang? Secuil pun jejaknya tidak ada lagi sekarang.


Hal itu menunjukkan bahwa seberapa pun besarnya kekayaan, pada suatu saat, pada suatu waktu, pasti akan habis juga. Itu sebabnya, Tuhan Yesus berkata, tidak ada untungnya kamu mengumpulkan harta di bumi, sebab di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada di situ pula hatimu berada. (Matius 6:19-21).


Harta di sorga adalah kehidupan kekal yang dijanjikan Tuhan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, dan yang melakukan perintah-perintah-Nya. Apabila kita percaya kepada Tuhan dan memberikan hati kita kepada Tuhan, maka di sanalah harta kita dikumpulkan. Sebaliknya, apabila hati kita lebih cinta kepada uang daripada untuk melakukan perintah-perintah Tuhan, maka harta kitapun akan dalam bentuk uang saja. Dan ingatlah, seperti pengalaman Raja Salomo, sebesar apapun kekayaan pasti akan habis terkikis. Raja Salomo pun rupanya sudah menduga itu ketika ia berkata, “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” (Pengkhotbah 1:14).


Bukan hanya Raja Salomo, sudah banyak orang yang menemukan kenyataan, bahwa kenikmatan hidup, harta yang berlimpah, kemewahan, dan kelezatan makanan, ternyata tidak dapat memberi kepuasan apa-apa pada kita. Hati kita akan tetap hampa, hambar, seolah-olah ada sesuatu yang kosong - bila tanpa diisi dengan harta sorgawi yang kekal. Sebab memang di dunia ini tidak ada yang abadi. Semuanya akan berlalu dan sia-sia. Tapi Tuhan berjanji: orang yang benar hidupnya tidak akan berlalu dengan sia-sia. Sebab IA akan mengingatnya sampai selama-lamanya. (Mazmur 103:17,18).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...