Langsung ke konten utama

Melihat dalam bingkai Allah

Dua foto yang sama saya lihat di rumah dua orang teman yang berbeda. Hasilnya sungguh jauh berbeda. Yang satu memberi kesan suram, meski kami semua di dalamnya tersenyum ceria. Namun di kamar teman yang satunya lagi, foto itu tampak lebih indah. Apakah yang membedakannya? Setelah kami bandingkan, ternyata perbedaannya adalah pada bingkai foto itu. Yang satu ditaruh dalam bingkai tua, bulat dan hitam, dan yang satunya lagi ditaruh di dalam bingkai persegi yang masih baru, dan berwarna keemasan.


Bayangkkan, satu objek, menimbulkan kesan yang sangat jauh berbeda, hanya karena ditempatkan dalam bingkai yang berbeda. Itulah yang terjadi ketika Musa mengirim 12 pengintai untuk pergi mendahului bangsa Israel ke Tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan untuk mereka. Di antara 12 pengintai itu adalah Kaleb dan Yosua. Selam 40 hari, mereka mengintai penduduk kota dan keadaan negeri itu, maka pulanglah mereka dan melaporkan hasilnya pada angsa Israel. Ke-10 yang lain berkata, bahwa mereka tidak mungkin menaklukkan Tanah Kanaan. Penduduknya adalah orang-orang keturunan raksasa, yang sangat kuat dan kejam. Mereka hanya bagaikan belalang saja layaknya bagi penduduk itu. Tak mungkin mengalahkan mereka. Tapi Kaleb dan Yosua, yang mengamati obyek yang sama, justru memberikan laporan yagn jauh berbeda. Menurut Kaleb, justru sebaliknya, merekalah, yakni bangsa Israel, yang seperti raksasa, dan orang-orang Kanaan itulah yang seperti belalang. Orang-orang Kanaan itu tidak akan cukup kuat melawan mereka.


Kaleb memiliki pandangan yang demikian, karena ia meletakkan bangsa dan Tanah Kanaan itu dalam bingkai Rencana dan janji Tuhan Allah bagi bangsanya. Tidak seperti pengintai-pengintai yang lain, Kaleb tidak sekadar melihat musuh, tetapi melihat pemenuhan janji dan rencana Allah bagi umat pilihan-Nya.


Kita menghadapi tantangan-tantangan dalam sepanjang masa hidup kita. Orang-orang akan mengatakan hal-hal yang negatif dan membuat kita patah semangat, takut, dan menjadi orang yang seperti apa yang mereka pikirkan. Tetapi kita harus seperti Kaleb yang melihat tantangan-tantangan itu dalam keyakinan bahwa bersama dengan Allah, kita dapat bergerak ke depan dan meraih kemenangan-kemenangan... Bila kita berpikir kita akan menang karena Allah menyertai kita, maka seperti itulah kita jadinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...