Langsung ke konten utama

Menghidupkan tulang-tulang mati

Ada sebuah dongeng tentang seorang perempuan tua pengumpul tulang, Laloba. Laloba, setiap hari menyusuri padang gurun yang gersang untuk mencari dan mengumpulkan tulang-tulang. Tulang apa saja ia kumpulkan, tetapi kebanyakan ia mendapatkan tulang serigala. Apabila tulang-tulang itu sudah lengkap seluruhnya, Laloba pun menyusunnya menjadi rangka, lalu ia duduk merenungkan nyanyian yang cocok, kemudian ia menyanyi dengan merdunya. Sementara ia menyanyi, otot-otot mulai tumbuh pada tulang-tulang itu, kemudian kulit dan bulu, dan akhirnya serigala itu pun hidup kembali seperti semula.


Dongeng Laloba ini adalah merupakan gambaran kegelisahan manusia, yang merasakan adanya sesuatu yang mati dalam dirinya. Mungkin itu mimpi-mimpi, cita-cita, daya pikir, hasrat hidup, perasaan, kemauan, atau harapan-harapan. Sepanjang itu tidak dihidupkan kembali, maka hidup kita akan bagaikan padang gurun yang kering dan tandus. Perlu perenungan, tekad yang kuat untuk menyusun satu per satu, apa yang telah hancur, yang telah hilang dan yang mati, dan kemudian kita ungkapkan dengan segenap hati. Barulah apa yang mati itu bisa hidup kembali dan menjadikan kita manusia baru.


Hal yang sama pernah terjadi pada bangsa Israel. Ketika bangsa Israel berada dalam pembuangan di Babel, bangsa itu seolah-olah sudah mati. Mereka bagaikan tulang-tulang berserakan. Mereka kering, pengharapan mereka sudah lenyap, mereka merasa sudah hilang (Yehezkiel 37: 1-14). Namun Allah berkenan memulihkan mereka. Allah menyatukan tulang-tulang itu kembali, Tuhan menumbuhkan daging, urat-urat, kulit dan kemudian menghembuskan napas hidup ke dalamnya, sehingga mereka hidup kembali. Hidup yang lebih hidup.


Apakah kita hidup, ataukah sudah mati, bukan ditentukan oleh apakah kita masih bergerak dan bernapas. Sebab meskipun jasmani kita masih hidup, tapi apabila rohani kita kering, tanpa pengharapan, tanpa hembusan napas ilahi, maka kita sebetulnya sama saja dengan orang mati. Kita perlu merenungkan kehidupan kita. Menerima sentuhan dan napas ilahi. Mencari pengharapan akan hidup yang sebenar-benarnya. Sehingga kita bangkit dan hidup dengan kekuatan yang sebagai manusia baru di dalam Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...