Kita diikat dengan berbagai-bagai macam ikatan. Ikatan itu bisa berupa ikatan darah, ikatan keluarga besar, ikatan perkawinan, ikatan persahabatan, ikatan kerja, dan lain-lain. Tetapi, perhatikanlah, mungkin ini juga menjadi pengalaman Anda sendiri, bahwa ikatan-ikatan itu tidak menjamin kedekatan kita dengan orang-orang. Ikatan darah kita dengan saudara kandung misalnya, belum tentu membuat hubungan kita dengannya bisa akrab. Ikatan persahabatan yang paling karib pun, tidak bisa menjamin bahwa suatu saat tidak akan terputus. Demikian juga dengan ikatan perkawinan. Seerat apapun kita diikat, ikatan itu bukanlah jaminan untuk mendekatkan kita dengan orang-orang.
Satu-satunya pengikat yang mampu merekatkan kita dengan orang-orang adalah kasih. Itu sebabnya, sepasang suami-istri yang semula tidak saling mengenal, tidak punya hubungan apa-apa, tapi karena di antara mereka ada kasih, maka hubungan mereka bisa berlangsung lama bahkan sampai maut datang menjemput. Demikian juga, dua orang yang bersahabat, meskipun mereka tidak ada hubungan kerabat, tetapi karena kasih, maka mereka lebih akrab daripada saudara kandung. Sementara orang yang bersaudara, yang terikat dengan darah dan keluarga, akan tetapi kalau di antara mereka tidak ada kasih, mereka bisa menjadi musuh yang berusaha untuk saling menghancurkan.
Sungguh ajaib makna dan kuasa kasih itu. Kasih itu tidak berwujud, tapi kehadirannya atau ketidakhadirannya begitu mempengaruhi hidup manusia. Karena kasih maka Yonatan menyayangi Daud, meski ayahnya, Saul, membencinya. Karena tidak ada kasih, maka Absalom membenci saudara-saudaranya sendiri serta memusuhi Daud ayahnya. Dan karena kasih, maka Yesus Kristus memberi nyawa-Nya untuk menebus dosa semua orang.
Jadi, kasihlah kunci yang sanggup mengikat kita dengan orang-orang dan dengan Allah. Tanpa kasih, hidup kita akan kering bagai padang yang tandus. Namun mengharapkan kehadiran kasih itu bukan bagaikan menantikan hujan turun dari langit. Kita semua diciptakan segambar dan serupa dengan Allah yang adalah kasih. Maka itu berarti kita semua pada dasarnya memiliki kapasitas atau kemampuan untuk mengisihi. Tapi Kasih itu mesti senantiasa kita ciptakan, kita tumbuh kembangkan, dan kita peliharakan dalam setiap ikatan kita dengan sesama. Hanya kasihlah yang sanggup menjaga kualitas hubungan kita dengan sesama.
Satu-satunya pengikat yang mampu merekatkan kita dengan orang-orang adalah kasih. Itu sebabnya, sepasang suami-istri yang semula tidak saling mengenal, tidak punya hubungan apa-apa, tapi karena di antara mereka ada kasih, maka hubungan mereka bisa berlangsung lama bahkan sampai maut datang menjemput. Demikian juga, dua orang yang bersahabat, meskipun mereka tidak ada hubungan kerabat, tetapi karena kasih, maka mereka lebih akrab daripada saudara kandung. Sementara orang yang bersaudara, yang terikat dengan darah dan keluarga, akan tetapi kalau di antara mereka tidak ada kasih, mereka bisa menjadi musuh yang berusaha untuk saling menghancurkan.
Sungguh ajaib makna dan kuasa kasih itu. Kasih itu tidak berwujud, tapi kehadirannya atau ketidakhadirannya begitu mempengaruhi hidup manusia. Karena kasih maka Yonatan menyayangi Daud, meski ayahnya, Saul, membencinya. Karena tidak ada kasih, maka Absalom membenci saudara-saudaranya sendiri serta memusuhi Daud ayahnya. Dan karena kasih, maka Yesus Kristus memberi nyawa-Nya untuk menebus dosa semua orang.
Jadi, kasihlah kunci yang sanggup mengikat kita dengan orang-orang dan dengan Allah. Tanpa kasih, hidup kita akan kering bagai padang yang tandus. Namun mengharapkan kehadiran kasih itu bukan bagaikan menantikan hujan turun dari langit. Kita semua diciptakan segambar dan serupa dengan Allah yang adalah kasih. Maka itu berarti kita semua pada dasarnya memiliki kapasitas atau kemampuan untuk mengisihi. Tapi Kasih itu mesti senantiasa kita ciptakan, kita tumbuh kembangkan, dan kita peliharakan dalam setiap ikatan kita dengan sesama. Hanya kasihlah yang sanggup menjaga kualitas hubungan kita dengan sesama.
Komentar