Langsung ke konten utama

Kasih, pengikat yang terkuat

Kita diikat dengan berbagai-bagai macam ikatan. Ikatan itu bisa berupa ikatan darah, ikatan keluarga besar, ikatan perkawinan, ikatan persahabatan, ikatan kerja, dan lain-lain. Tetapi, perhatikanlah, mungkin ini juga menjadi pengalaman Anda sendiri, bahwa ikatan-ikatan itu tidak menjamin kedekatan kita dengan orang-orang. Ikatan darah kita dengan saudara kandung misalnya, belum tentu membuat hubungan kita dengannya bisa akrab. Ikatan persahabatan yang paling karib pun, tidak bisa menjamin bahwa suatu saat tidak akan terputus. Demikian juga dengan ikatan perkawinan. Seerat apapun kita diikat, ikatan itu bukanlah jaminan untuk mendekatkan kita dengan orang-orang.


Satu-satunya pengikat yang mampu merekatkan kita dengan orang-orang adalah kasih. Itu sebabnya, sepasang suami-istri yang semula tidak saling mengenal, tidak punya hubungan apa-apa, tapi karena di antara mereka ada kasih, maka hubungan mereka bisa berlangsung lama bahkan sampai maut datang menjemput. Demikian juga, dua orang yang bersahabat, meskipun mereka tidak ada hubungan kerabat, tetapi karena kasih, maka mereka lebih akrab daripada saudara kandung. Sementara orang yang bersaudara, yang terikat dengan darah dan keluarga, akan tetapi kalau di antara mereka tidak ada kasih, mereka bisa menjadi musuh yang berusaha untuk saling menghancurkan.


Sungguh ajaib makna dan kuasa kasih itu. Kasih itu tidak berwujud, tapi kehadirannya atau ketidakhadirannya begitu mempengaruhi hidup manusia. Karena kasih maka Yonatan menyayangi Daud, meski ayahnya, Saul, membencinya. Karena tidak ada kasih, maka Absalom membenci saudara-saudaranya sendiri serta memusuhi Daud ayahnya. Dan karena kasih, maka Yesus Kristus memberi nyawa-Nya untuk menebus dosa semua orang.


Jadi, kasihlah kunci yang sanggup mengikat kita dengan orang-orang dan dengan Allah. Tanpa kasih, hidup kita akan kering bagai padang yang tandus. Namun mengharapkan kehadiran kasih itu bukan bagaikan menantikan hujan turun dari langit. Kita semua diciptakan segambar dan serupa dengan Allah yang adalah kasih. Maka itu berarti kita semua pada dasarnya memiliki kapasitas atau kemampuan untuk mengisihi. Tapi Kasih itu mesti senantiasa kita ciptakan, kita tumbuh kembangkan, dan kita peliharakan dalam setiap ikatan kita dengan sesama. Hanya kasihlah yang sanggup menjaga kualitas hubungan kita dengan sesama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dirhamku

ooo... kukira kau telah hilang blog ku sayang... secara tak sengaja kau kutemukan kembali. barangkali beginilah rasanya si wanita yang menemukan dirham yang hilang itu :D

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Baru Arak-arakan Saja!

Seorang anak lelaki dengan penuh semangat memberitahu ayahnya, bahwa hari Sabtu nanti akan ada pertunjukan sirkus di kota. Ia bertanya, “Apakah aku boleh pergi untuk menonton sirkus, Ayah?” Mereka adalah keluarga miskin, tetapi sang ayah merasa tidak sampai hati mengecewakan wajah yang bersinar-sinar penuh harap itu. Maka ia pun mengijinkan, dengan syarat anak itu harus menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Dan anak itu pun langsung berlari dengan riang mengerjakan tugas-tugasnya.... Ketika hari Sabtu tiba, pagi-pagi sekali ia sudah siap. Ia mengenakan pakaian terbaiknya, sepasang pakaian satu-satunya yang biasa dipakainya ke Sekolah Minggu, lalu menghadap ayahnya. Sang ayah memberinya uang dua puluh ribu rupiah dan melepaskannya pergi. Anak itu demikian gembiranya sehingga ia berlari seakan-akan kakinya tidak menyentuh tanah. Sesampainya di perbatasan, ia bertemu dengan parade sirkus. Waow! Ia memandang arak-arakan parade itu dengan takjub. Belum pernah ia melihat keramaian seperti i...