Langsung ke konten utama

Menularkan Keberanian

Seorang ibu pernah berkata, “Bagaimanapun anak-anak saya bersalah, saya akan membelanya mati-matian di depan orang, meski mungkin sesampainya di rumah saya akan menggebuknya habis-habisan!” kedengarannya sangat egois dan kejam, bukan? Tapi yang dimaksudkan ibu itu bukanlah supaya anak-anaknya boleh dengan bebas melakukan kesalahan-kesalahan, melainkan ia ingin menanamkan dalam diri anaknya-anaknya, bahwa bila mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan itu benar, maka anak-anaknya itu harus maju terus dengan berani, dan tidak usah takut pada pendapat orang banyak.


Sikap yang sama dilakukan oleh ayah Gideon ketika Gideon ketahuan penduduk kampungnya telah menghancurkan segala perlengkapan penyembahan dewa Baal. Ketika Gideon dicecar dan dituntut pertanggung-jawabannya - Yoas, ayahnya, maju ke depan dan membela puteranya itu. “Kalau Baal memang berkuasa, biarlah ia membela dirinya sendiri!” seru Yoas(Hakim 6:31).


Bisa jadi bahwa Yoaspun sudah lama tidak setuju dengan penyembahan berhala itu, tetapi ia tidak berani mengambil sikap. Tapi keberanian puteranya yang taat pada Allah itu, telah menularkan keberanian yang sama padanya. Maka, Yoas berdiri di samping anaknya dan Tuhan - untuk melawan orang-orang sekampungnya yang marah dan ingin mempertahankan ilah-ilah palsu mereka. Jadi, berbeda dengan ibu tadi, yang dengan caranya sendiri berupaya mengalirkan keberanian kepada anak-anaknya, dalam kisah Gideon, ayahnya-lah yang tertular keberanian dari Gideon, tetapi bukan tidak mungkin bahwa keberanian Gideon pun semakin bertambah-tambah pada saat ia tahu bahwa ia mendapat dukungan dari ayahnya sendiri. (Kisah selengkapnya dapat Anda baca dalam Hakim 7)


Kita memerlukan lebih banyak orang-orang tua seperti itu hari-hari ini. Kita memerlukan orang-orang tua yang gigih menumbuhkan keberanian serta mendukung anak-anaknya untuk taat dan takut kepada Allah saja. Ada banyak iIah-ilah di sekitar kita, seperti: harta milik, kedudukan, kebudayaan setempat, pendapat-pendapat umum, serta kuasa-kuasa manusia – semuanya itu telah merampas perhatian kita kepada Allah. Diperlukan keberanian untuk melawannya. Tetapi keberanian yang lahir dari ketaatan dan kesetiaan hanya pada Allah. keberanian seperti inilah yang harus kita tularkan kepada anak-anak kita dan orang-orang lain juga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dirhamku

ooo... kukira kau telah hilang blog ku sayang... secara tak sengaja kau kutemukan kembali. barangkali beginilah rasanya si wanita yang menemukan dirham yang hilang itu :D

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Baru Arak-arakan Saja!

Seorang anak lelaki dengan penuh semangat memberitahu ayahnya, bahwa hari Sabtu nanti akan ada pertunjukan sirkus di kota. Ia bertanya, “Apakah aku boleh pergi untuk menonton sirkus, Ayah?” Mereka adalah keluarga miskin, tetapi sang ayah merasa tidak sampai hati mengecewakan wajah yang bersinar-sinar penuh harap itu. Maka ia pun mengijinkan, dengan syarat anak itu harus menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Dan anak itu pun langsung berlari dengan riang mengerjakan tugas-tugasnya.... Ketika hari Sabtu tiba, pagi-pagi sekali ia sudah siap. Ia mengenakan pakaian terbaiknya, sepasang pakaian satu-satunya yang biasa dipakainya ke Sekolah Minggu, lalu menghadap ayahnya. Sang ayah memberinya uang dua puluh ribu rupiah dan melepaskannya pergi. Anak itu demikian gembiranya sehingga ia berlari seakan-akan kakinya tidak menyentuh tanah. Sesampainya di perbatasan, ia bertemu dengan parade sirkus. Waow! Ia memandang arak-arakan parade itu dengan takjub. Belum pernah ia melihat keramaian seperti i...