Ada sebuah pertanyaan klasik yang cukup menarik. Pertanyaan itu berbunyi demikian: manakah yang lebih dulu ada, telur ataukah ayam? Biasanya, kalau kita menjawab ayam, maka si penanya akan bertanya kembali, “tetapi kan ayam lahir dari telur?” tapi kalau kita menjawab telur, maka pertanyaan yang muncul berikut adalah, bukankah telur hanya dikeluarkan oleh ayam?
Pertanyaan itu membingungkan, kalau kita hanya memfokuskan perhatian pada si ayam dan telur itu. mestinya kita kembali pada karya penciptaan Allah, bahwa Allah tidak menciptakan telur, melainkan ayamnya. Nah, dalam pola ini, marilah kita memahami nasehat Amsal 29:18 “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” Istilah Wahyu di sini adalah berarti penyingkapan makna Firman Allah kepada seseorang, sehingga ia mengerti apa sangkut paut Firman itu dengan kehidupannya. Nah, jadi bila ayat ini kita uraikan, maka persoalan yang timbul adalah: Manakah yang benar: orang menjadi liar karena tidak ada wahyu, ataukah karena orang menjadi liar, maka wahyu tidak diberikan oleh Allah?
Allah tentulah tidak akan menuntut kita melakukan sesuatu apabila Ia tidak pernah mengajarkannya. Allah telah memberikan hukum-hukum-Nya melalui nabi-nabi-Nya dalam sepanjang sejarah; bahkan Ia telah datang sendiri dalam wujud Yesus Kristus. Allah tak henti-hentinya melakukan upaya untuk menyingkapkan apa kehendak-Nya terhadap umat-Nya. Kalau kemudian manusia tidak mau diatur oleh hukum-hukum Allah, sehingga menjadi liar, hidup tak beraturan, bertingkah laku semau-maunya, maka itu bukanlah karena tidak ada wahyu Allah, melainkan karena kekerasan hati manusia sendiri. Dalam Matius 13:14 Yesus berkata, orang yang menutup hatinya terhadap Firman Allah akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap!
Arti Firman Tuhan itu memang hanya menjadi terang bagi mereka yang mau dengan tulus hati dan dengan penuh kesungguhan mencari kehendak Allah. Kepada mereka yang menghargai hukum-hukum-Nya dan melakukannya, akan Ia beri kehidupan, tetapi bagi yang menutup hatinya dari hukum-hukum Allah, akan mendapatkan ganjarannya sendiri. Dan, Allah tidak menerima dalih, bahwa Dialah yang tidak memberitahukan hukum itu!
Pertanyaan itu membingungkan, kalau kita hanya memfokuskan perhatian pada si ayam dan telur itu. mestinya kita kembali pada karya penciptaan Allah, bahwa Allah tidak menciptakan telur, melainkan ayamnya. Nah, dalam pola ini, marilah kita memahami nasehat Amsal 29:18 “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” Istilah Wahyu di sini adalah berarti penyingkapan makna Firman Allah kepada seseorang, sehingga ia mengerti apa sangkut paut Firman itu dengan kehidupannya. Nah, jadi bila ayat ini kita uraikan, maka persoalan yang timbul adalah: Manakah yang benar: orang menjadi liar karena tidak ada wahyu, ataukah karena orang menjadi liar, maka wahyu tidak diberikan oleh Allah?
Allah tentulah tidak akan menuntut kita melakukan sesuatu apabila Ia tidak pernah mengajarkannya. Allah telah memberikan hukum-hukum-Nya melalui nabi-nabi-Nya dalam sepanjang sejarah; bahkan Ia telah datang sendiri dalam wujud Yesus Kristus. Allah tak henti-hentinya melakukan upaya untuk menyingkapkan apa kehendak-Nya terhadap umat-Nya. Kalau kemudian manusia tidak mau diatur oleh hukum-hukum Allah, sehingga menjadi liar, hidup tak beraturan, bertingkah laku semau-maunya, maka itu bukanlah karena tidak ada wahyu Allah, melainkan karena kekerasan hati manusia sendiri. Dalam Matius 13:14 Yesus berkata, orang yang menutup hatinya terhadap Firman Allah akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap!
Arti Firman Tuhan itu memang hanya menjadi terang bagi mereka yang mau dengan tulus hati dan dengan penuh kesungguhan mencari kehendak Allah. Kepada mereka yang menghargai hukum-hukum-Nya dan melakukannya, akan Ia beri kehidupan, tetapi bagi yang menutup hatinya dari hukum-hukum Allah, akan mendapatkan ganjarannya sendiri. Dan, Allah tidak menerima dalih, bahwa Dialah yang tidak memberitahukan hukum itu!
Komentar