Menurut beberapa ahli, cara penilaian terhadap murid-murid sekolah dengan berdasarkan sistem rangking, sebetulnya tidak adil dalam menilai perkembangan anak. Sebab sistem rangking mengabaikan perkembangan anak secara individu. Mestinya setiap anak dinilai berdasarkan kemajuan dan perkembangan mereka sendiri. Sehingga meski seorang murid misalnya, tidak mendapatkan nilai yang sempurna, tetapi apabila nilai itu sudah menunjukkan kemajuannya dari yang lalu, maka ia patut mendapat penghargaan.
Kepada setiap anak-anak-Nya, Tuhan berkata, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di Sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48). Wah, berat sekali perintah Tuhan ini, mustahillah kita memenuhinya, begitu mungkin pikir kita. Kita adalah manusia yang lemah dan penuh keterbatasan. Bagaimanakah kita akan sanggup melakukan semua perintah-Nya? Sebaik-baiknya orang, pasti ada juga kekurangannya. Mungkin ia orang yang memiliki sifat ramah, tetapi belum tentu ia murah hati. Mungkin seseorang bisa menjaga seluruh kelakuannya, tetapi sampai sejauh mana manusia bisa bertahan bila berada dalam kesesakan hidup? Tidak ada seorang pun manusia berdosa ini yang atas kuasanya sendiri mampu berbuat baik dan menjadikan dirinya sempurna sepanjang masa hidupnya.
Sungguh patut kita syukuri bahwa ternyata apa yang Tuhan sebut sempurna itu bukanlah kesempurnaan seperti yang kita pikirkan. Menjadi sempurna menurut Allah, bukan berarti tanpa cacat, tanpa kelemahan, melainkan bila kita memiliki kesetiaan dan keteguhan hati untuk melakukan kehendak-Nya. Dengan Pengorbanan Yesus Kristus, seluruh dosa dan kegagalan-kegagalan kita telah ditebus-Nya, dan setiap orang yang percaya kepada-Nya dosa-dosanya tidak diperhitungkan lagi. Kita telah dibenarkan dengan Cuma-Cuma, tanpa syarat (Roma 3). Dengan kata lain, Allah menilai kita berdasarkan iman kita, dan bukan berdasarkan seberapa banyak hukum yang kita berhasil penuhi, atau seberapa besar nilai hidup yang kita berhasil kumpulkan.
Memang kita disebutnya sempurna, bukan karena kita berhasil melakukan semua hukum-hukum-Nya secara sempurna. Akan tetapi itu bukan berarti, bahwa kita lantas boleh dengan sengaja tidak melakukan hukum-hukum Tuhan atau bahkan boleh melanggarnya. Sebab Tuhan akan tetap menilai kesetiaan serta niat hati kita untuk memenuhi hukum-hukum-Nya.
Kepada setiap anak-anak-Nya, Tuhan berkata, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di Sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48). Wah, berat sekali perintah Tuhan ini, mustahillah kita memenuhinya, begitu mungkin pikir kita. Kita adalah manusia yang lemah dan penuh keterbatasan. Bagaimanakah kita akan sanggup melakukan semua perintah-Nya? Sebaik-baiknya orang, pasti ada juga kekurangannya. Mungkin ia orang yang memiliki sifat ramah, tetapi belum tentu ia murah hati. Mungkin seseorang bisa menjaga seluruh kelakuannya, tetapi sampai sejauh mana manusia bisa bertahan bila berada dalam kesesakan hidup? Tidak ada seorang pun manusia berdosa ini yang atas kuasanya sendiri mampu berbuat baik dan menjadikan dirinya sempurna sepanjang masa hidupnya.
Sungguh patut kita syukuri bahwa ternyata apa yang Tuhan sebut sempurna itu bukanlah kesempurnaan seperti yang kita pikirkan. Menjadi sempurna menurut Allah, bukan berarti tanpa cacat, tanpa kelemahan, melainkan bila kita memiliki kesetiaan dan keteguhan hati untuk melakukan kehendak-Nya. Dengan Pengorbanan Yesus Kristus, seluruh dosa dan kegagalan-kegagalan kita telah ditebus-Nya, dan setiap orang yang percaya kepada-Nya dosa-dosanya tidak diperhitungkan lagi. Kita telah dibenarkan dengan Cuma-Cuma, tanpa syarat (Roma 3). Dengan kata lain, Allah menilai kita berdasarkan iman kita, dan bukan berdasarkan seberapa banyak hukum yang kita berhasil penuhi, atau seberapa besar nilai hidup yang kita berhasil kumpulkan.
Memang kita disebutnya sempurna, bukan karena kita berhasil melakukan semua hukum-hukum-Nya secara sempurna. Akan tetapi itu bukan berarti, bahwa kita lantas boleh dengan sengaja tidak melakukan hukum-hukum Tuhan atau bahkan boleh melanggarnya. Sebab Tuhan akan tetap menilai kesetiaan serta niat hati kita untuk memenuhi hukum-hukum-Nya.
Komentar