Sponsor, adalah pendukung sebuah kegiatan, atau acara. Biasanya, dukungan dari sponsor itu dalam bentuk sumbangan dana, atau juga menyediakan hadiah-hadiah menarik bagi para peserta atau pemenang. Itu tampaknya sangat murah hati, tetapi bukan berarti tanpa syarat? Karena panitia harus juga tidak lupa menyebutkan atau memperkenalkan sponsor itu setiap kali mereka menyerahkan hadiah, atau ketika mengungkapkan terima kasih. Sebab bila tidak, maka sponsor itu akan kecewa, dan lain kali tidak lagi mau memberi dukungannya kepada panitia itu.
Saudara, boleh dikata, seperti itulah cara Tuhan bekerja. Seperti sponsor, Tuhan memberikan manusia apa-apa yang dibutuhkannya, bahkan kadangkala melebihi apa yang kita pinta. Tetapi bukan berarti itu tidak ada syaratnya. Sebab kita harus mengucapkan syukur, dan menyiarkan tentang kebaikan DIA yang telah memberikan berkat itu. Dan bila tidak, maka ada sangsi-sangsi tertentu yang Tuhan akan jatuhkan.
Seperti yang pernah dialami oleh raja Hizkia, seorang raja Israel. Suatu ketika ia jatuh sakit. Melalui nabi Yesaya, ia diberi tahu bahwa ia akan meninggal. Mendengar itu, raja Hizkia menangis dan memohon agar Tuhan menyembuhkannya. Karena belas kasih Tuhan, maka ia pun disembuhkan. Berita itu kemudian terdengar oleh raja Babel, saingarnnya, dan raja Babel menyuruh utusannya datang menyampaikan ucapan selamat baginya. Tapi karena begitu senang menerima kunjungan, hadiah-hadiah, dan perhatian, sampai-sampai Raja Hizkia tidak mengingat untuk memperkenalkan Allah, sebagai Sang Pemberi kesembuhan itu. Yang ia lakukan malah memamerkan semua isi istananya kepada utusan Babel itu. Akibatnya, Allah murka dan melalui nabi Yesaya, dinubuatkan bahwa ia akan kehilangan semua yang ia miliki itu (2 Raj 20).
Kadangkala kita cenderung menjadi lupa diri bila mendapatkan suatu berkat. Kita merasa, karena kita beruntung, maka kita lebih baik daripada yang lain. Perhatian kita lebih tertuju pada diri kita sendiri, dan melupakan Si Pemberi. Padahal, meski berkat itu diserahkan oleh seseorang, mungkin saudara kita, tetangga atau sahabat kita. Tetapi siapapun yang menyerahkannya, sesungguhnya itu asalnya dari Tuhan semata-mata. Dan Tuhan ingin kita menyatakan kebaikan dan kemurahan-Nya kepada setiap orang, supaya semakin banyaklah orang yang mengenal Dia, Tuhan, Allah kita itu.
Saudara, boleh dikata, seperti itulah cara Tuhan bekerja. Seperti sponsor, Tuhan memberikan manusia apa-apa yang dibutuhkannya, bahkan kadangkala melebihi apa yang kita pinta. Tetapi bukan berarti itu tidak ada syaratnya. Sebab kita harus mengucapkan syukur, dan menyiarkan tentang kebaikan DIA yang telah memberikan berkat itu. Dan bila tidak, maka ada sangsi-sangsi tertentu yang Tuhan akan jatuhkan.
Seperti yang pernah dialami oleh raja Hizkia, seorang raja Israel. Suatu ketika ia jatuh sakit. Melalui nabi Yesaya, ia diberi tahu bahwa ia akan meninggal. Mendengar itu, raja Hizkia menangis dan memohon agar Tuhan menyembuhkannya. Karena belas kasih Tuhan, maka ia pun disembuhkan. Berita itu kemudian terdengar oleh raja Babel, saingarnnya, dan raja Babel menyuruh utusannya datang menyampaikan ucapan selamat baginya. Tapi karena begitu senang menerima kunjungan, hadiah-hadiah, dan perhatian, sampai-sampai Raja Hizkia tidak mengingat untuk memperkenalkan Allah, sebagai Sang Pemberi kesembuhan itu. Yang ia lakukan malah memamerkan semua isi istananya kepada utusan Babel itu. Akibatnya, Allah murka dan melalui nabi Yesaya, dinubuatkan bahwa ia akan kehilangan semua yang ia miliki itu (2 Raj 20).
Kadangkala kita cenderung menjadi lupa diri bila mendapatkan suatu berkat. Kita merasa, karena kita beruntung, maka kita lebih baik daripada yang lain. Perhatian kita lebih tertuju pada diri kita sendiri, dan melupakan Si Pemberi. Padahal, meski berkat itu diserahkan oleh seseorang, mungkin saudara kita, tetangga atau sahabat kita. Tetapi siapapun yang menyerahkannya, sesungguhnya itu asalnya dari Tuhan semata-mata. Dan Tuhan ingin kita menyatakan kebaikan dan kemurahan-Nya kepada setiap orang, supaya semakin banyaklah orang yang mengenal Dia, Tuhan, Allah kita itu.
Komentar