Langsung ke konten utama

Siapakah sponsornya?

Sponsor, adalah pendukung sebuah kegiatan, atau acara. Biasanya, dukungan dari sponsor itu dalam bentuk sumbangan dana, atau juga menyediakan hadiah-hadiah menarik bagi para peserta atau pemenang. Itu tampaknya sangat murah hati, tetapi bukan berarti tanpa syarat? Karena panitia harus juga tidak lupa menyebutkan atau memperkenalkan sponsor itu setiap kali mereka menyerahkan hadiah, atau ketika mengungkapkan terima kasih. Sebab bila tidak, maka sponsor itu akan kecewa, dan lain kali tidak lagi mau memberi dukungannya kepada panitia itu.
Saudara, boleh dikata, seperti itulah cara Tuhan bekerja. Seperti sponsor, Tuhan memberikan manusia apa-apa yang dibutuhkannya, bahkan kadangkala melebihi apa yang kita pinta. Tetapi bukan berarti itu tidak ada syaratnya. Sebab kita harus mengucapkan syukur, dan menyiarkan tentang kebaikan DIA yang telah memberikan berkat itu. Dan bila tidak, maka ada sangsi-sangsi tertentu yang Tuhan akan jatuhkan.


Seperti yang pernah dialami oleh raja Hizkia, seorang raja Israel. Suatu ketika ia jatuh sakit. Melalui nabi Yesaya, ia diberi tahu bahwa ia akan meninggal. Mendengar itu, raja Hizkia menangis dan memohon agar Tuhan menyembuhkannya. Karena belas kasih Tuhan, maka ia pun disembuhkan. Berita itu kemudian terdengar oleh raja Babel, saingarnnya, dan raja Babel menyuruh utusannya datang menyampaikan ucapan selamat baginya. Tapi karena begitu senang menerima kunjungan, hadiah-hadiah, dan perhatian, sampai-sampai Raja Hizkia tidak mengingat untuk memperkenalkan Allah, sebagai Sang Pemberi kesembuhan itu. Yang ia lakukan malah memamerkan semua isi istananya kepada utusan Babel itu. Akibatnya, Allah murka dan melalui nabi Yesaya, dinubuatkan bahwa ia akan kehilangan semua yang ia miliki itu (2 Raj 20).


Kadangkala kita cenderung menjadi lupa diri bila mendapatkan suatu berkat. Kita merasa, karena kita beruntung, maka kita lebih baik daripada yang lain. Perhatian kita lebih tertuju pada diri kita sendiri, dan melupakan Si Pemberi. Padahal, meski berkat itu diserahkan oleh seseorang, mungkin saudara kita, tetangga atau sahabat kita. Tetapi siapapun yang menyerahkannya, sesungguhnya itu asalnya dari Tuhan semata-mata. Dan Tuhan ingin kita menyatakan kebaikan dan kemurahan-Nya kepada setiap orang, supaya semakin banyaklah orang yang mengenal Dia, Tuhan, Allah kita itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...