Kalau Anda memperhatikan berita-berita, terutama yang menyangkut tindak kriminal, biasanya nama si pelaku disamarkan dengan hanya menyebutkan inisialnya saja. Kita mungkin penasaran dan ingin tahu lebih lanjut tentang siapa orang itu sebenarnya. Akan tetapi itu adalah kode etik dalam dunia jurnalistik/kewartawanan yang bertujuan untuk melindungi kaum keluarga si pelaku dari akibat-akibat yang tidak diinginkan.
Di dalam Alkitab, seringkali ditampilkan kisah-kisah dengan tokoh tanpa nama, tidak juga inisialnya. Itu bukanlah soal kode etik penulisan, tetapi supaya setiap pembaca atau pendengar kisah itu, bisa menempatkan dirinya pada posisi si tokoh tanpa nama itu. Misalnya, dalam kisah nabi Elia dengan seorang janda di Sarfat (1 Raj.17); Si janda, adalah gambaran kita semua yang hidup dalam kemiskinan, tak ada jaminan sosial, hanya mengandalkan pertolongan Tuhan semata-mata. Juga dalam Kisah nabi Elisa dengan janda seorang hamba Allah (2 Raj. 4:1-7); dengan tak menyebutkan nama janda itu, maupun nama si hamba Allah sendiri, setiap pendengar dibawa untuk mencoba menempatkan dirinya sebagai anggota keluarga seorang hamba Allah. Betapa seringkali keluarga para pelayan Tuhan terbengkalai hidupnya, pas-pasan ekonominya, tetapi dibimbing untuk mencari dalam pengalaman kita sendiri bagaimana Allah senantiasa memeliharakan hidupnya.
Dalam Perjanjian baru, kita juga mendengar kisah seorang perempuan Siro-Fenisia yang dengan penuh kepercayaan memohon Yesus mengusir roh jahat dari anaknya (Markus 7:24-30). Melalui perempuan siro-fenisia itu, kita bisa menempatkan diri sebagai seorang bukan Yahudi, yang mendapatkan keselamatan dari Allah, karena iman percaya kepada Yesus Kristus. Demikian juga dalam kisah seorang perempuan berdosa yang membasuh kaki Yesus dengan minyak wangi (Lukas 7:36-50); banyak orang yang begitu saja menghubungkan perempuan itu sebagai seorang pelacur dan dosanya yang dimaksud pastilah dosa seksual. Namun, dengan tidak disebutkannya nama perempuan itu serta rincian dosanya, maka kita bisa menempatkan diri kita, dengan dosa-dosa kita, yang mungkin hanya kita saja yang tahu.
Melalui kisah-kisah dengan tokoh tanpa nama ini, kita belajar dari pengalaman iman orang-orang, yang pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita masing-masing. Bahwa siapapun kita, dan apapun dosa kita. Apabila kita datang kepada-Nya, bertobat serta mempercayakan segenap kehidupan kita kepada-Nya, maka Allah tidak pernah menolak kita.
Di dalam Alkitab, seringkali ditampilkan kisah-kisah dengan tokoh tanpa nama, tidak juga inisialnya. Itu bukanlah soal kode etik penulisan, tetapi supaya setiap pembaca atau pendengar kisah itu, bisa menempatkan dirinya pada posisi si tokoh tanpa nama itu. Misalnya, dalam kisah nabi Elia dengan seorang janda di Sarfat (1 Raj.17); Si janda, adalah gambaran kita semua yang hidup dalam kemiskinan, tak ada jaminan sosial, hanya mengandalkan pertolongan Tuhan semata-mata. Juga dalam Kisah nabi Elisa dengan janda seorang hamba Allah (2 Raj. 4:1-7); dengan tak menyebutkan nama janda itu, maupun nama si hamba Allah sendiri, setiap pendengar dibawa untuk mencoba menempatkan dirinya sebagai anggota keluarga seorang hamba Allah. Betapa seringkali keluarga para pelayan Tuhan terbengkalai hidupnya, pas-pasan ekonominya, tetapi dibimbing untuk mencari dalam pengalaman kita sendiri bagaimana Allah senantiasa memeliharakan hidupnya.
Dalam Perjanjian baru, kita juga mendengar kisah seorang perempuan Siro-Fenisia yang dengan penuh kepercayaan memohon Yesus mengusir roh jahat dari anaknya (Markus 7:24-30). Melalui perempuan siro-fenisia itu, kita bisa menempatkan diri sebagai seorang bukan Yahudi, yang mendapatkan keselamatan dari Allah, karena iman percaya kepada Yesus Kristus. Demikian juga dalam kisah seorang perempuan berdosa yang membasuh kaki Yesus dengan minyak wangi (Lukas 7:36-50); banyak orang yang begitu saja menghubungkan perempuan itu sebagai seorang pelacur dan dosanya yang dimaksud pastilah dosa seksual. Namun, dengan tidak disebutkannya nama perempuan itu serta rincian dosanya, maka kita bisa menempatkan diri kita, dengan dosa-dosa kita, yang mungkin hanya kita saja yang tahu.
Melalui kisah-kisah dengan tokoh tanpa nama ini, kita belajar dari pengalaman iman orang-orang, yang pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita masing-masing. Bahwa siapapun kita, dan apapun dosa kita. Apabila kita datang kepada-Nya, bertobat serta mempercayakan segenap kehidupan kita kepada-Nya, maka Allah tidak pernah menolak kita.
Komentar