Langsung ke konten utama

Cermin yang sempurna

Dulu, semasa kecil, saya bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam di depan lampu petromaks. Karena tabung minyak lampu petromaks yang terbuat dari alumunium dan bentuknya bulat itu memiliki sifat sebagai cermin cembung yang tampak ajaib. Saya tidak bosan-bosannya memaju-mundurkan wajah, dengan mimik yang berbeda-beda, sambil tertawa-tawa mengamati pantulannya yang lucu-lucu. Tapi di kemudian hari, sama seperti orang-orang lain, saya pun kini lebih suka melihat diri di depan cermin yang lebih rata. Dan tentu yang saya harapkan bukan lagi bentuk yang lucu-lucu dan tak beraturan seperti di dalam tabung lampu petromaks itu. saya kira, kita semua tentunya ingin melihat diri kita di dalam cermin dalam keadaan yang lebih cantik, atau lebih ganteng, dan menarik.


Cermin-cermin, seperti yang kita kenal sekarang, sebetulnya hanya berguna untuk menolong kita melihat dan memperhatikan penampilan luaran kita semata. Padahal keutuhan kita sebagai manusia, ditentukan pula oleh bagian dalam dari diri kita, yang tidak kelihatan, yakni jiwa. Bagian dalam diri kita itu, juga perlu ditata, dihias, serta dibenahi penampilannya. Hidup ini akan terasa lebih indah dan membahagiakan, apabila keadaan diri luar dan dalam kita seimbang. Dan oleh karena itu, seperti kita membutuhkan cermin untuk melihat penampilan fisik, demikian pula, kita memerlukan cermin untuk jiwa kita.


Cermin apakah yang bisa memperlihatkan bagian dalam dari diri kita? Dengan apakah kita bisa melihat keadaan jiwa kita? Di dalam dunia ini, ada banyak cermin yang bisa memperlihatkan keadaan jiwa kita. melalui ilmu pengetahuan, buku-buku, atau bahkan mungkin paranormal pun bisa menggambarkan keadan jiwa kita. Namun ingatlah, meskipun kita bisa melihat diri kita di dalam cermin itu, tetapi tidak semua cermin memantulkan gambar diri kita yang sebenarnya. Cermin yang tepat, yang jernih, dan yang sanggup memantulkan keadaan jiwa kita yang sebenar-benarnya, hanyalah Firman Allah. Firman Allah, adalah Cermin bagi jiwa kita yang paling sempurna. Dengan cermin itu, kita memperbaharui kelakuan kita, memperbaiki kesalahan-kesalahan kita, dan ia akan membimbing kita pada kebenaran (2 Timotius 3:16).


Marilah kita senantiasa bercerminlah pada Firman Allah. itulah pedoman kit yang sempurna dalam membenahi hidup kita, agar menjadi manusia yang lebih utuh, bahagia dan sejatera lahir dan batin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...