Tereliminasi, adalah sebuah istilah yang akhir-akhir ini semakin populer di telinga kita. Mendengar Istilah ini, kita diingatkan pada acara Akademi Fantasi Indonesia dan Indonesian Idol yang ditayangkan televisi. Orang-orang yang telah terpilih untuk masuh ke babak final, dimasukkan ke dalam sebuah karantina. Di sana mereka dilatih, dididik dan dipertajam kemampuan dan bakat-bakatnya. Di karantina itulah kesempatan mereka untuk bertanya dan belajar apa saja untuk mengasah keahliannya, karena ketika mereka sudah di panggung, mereka masing-masing harus berjuang sendiri. Dan bila tidak memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan, mereka akan gugur dan harus keluar dari ajang lomba.
Anggaplah bahwa kehidupan kita di dalam dunia ini adalah masa karantina. Kita semua yang sedarah maupun yang tidak sedarah, kenal maupun tidak kenal, telah dipilih oleh Allah, dan dikumpulkan-Nya di dalam sebuah persekutuan umat Allah, dimana kita semua diperhatikan, dilatih, diajarkan berbagai peraturan-peraturan yang telah ditetapkan-Nya, supaya kita bisa mencapai standar-standar hidup sebagaimana yang IA harapkan.
Kita tidak perlu kuatir dengan bagaimana dunia ini menilai kita. Allah memperlakukan setiap orang secara adil. Ia mengenal kita sampai ke kedalaman hati dan pikiran kita. Ia menilai kita menurut keberadaan diri kita masing-masing. Ia memberi 5 talenta kepada yang mampu menerima 5 talenta, dan memberi hanya satu kepada yang kemampuannya hanya mengelola 1 talenta. Mengenai bagaimana perkembangan selanjutnya, adalah tergantung pada ketaatan dan tanggung jawab masing-masing orang. Penilaian Allah tida terpengaruh oleh suara-suara orang banyak, apalagi oleh pengaruh orang-orang tertentu.
Selama kita di dalam dunia inilah kita dibentuk untuk menjadi umat Allah yang setia. Di sini kita dipersiapkan untuk menempati suatu kediaman yang kekal di sorga (2 Korintus 5:1). Karena itulah, kita harus terus berjuang, mengikuti petunjuk-petunjuk Allah dan menjalani kehidupan di dalam dunia ini sebagaimana yang IA kehendaki. Karena pada penghakiman terakhir, Anak Manusia akan datang sebagai Hakim, untuk mengumpulkan orang-orang yang selama hidupnya mau dibentuk, dan mengeliminasi mereka yang tidak memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan-Nya (Matius 25:31-46).
Anggaplah bahwa kehidupan kita di dalam dunia ini adalah masa karantina. Kita semua yang sedarah maupun yang tidak sedarah, kenal maupun tidak kenal, telah dipilih oleh Allah, dan dikumpulkan-Nya di dalam sebuah persekutuan umat Allah, dimana kita semua diperhatikan, dilatih, diajarkan berbagai peraturan-peraturan yang telah ditetapkan-Nya, supaya kita bisa mencapai standar-standar hidup sebagaimana yang IA harapkan.
Kita tidak perlu kuatir dengan bagaimana dunia ini menilai kita. Allah memperlakukan setiap orang secara adil. Ia mengenal kita sampai ke kedalaman hati dan pikiran kita. Ia menilai kita menurut keberadaan diri kita masing-masing. Ia memberi 5 talenta kepada yang mampu menerima 5 talenta, dan memberi hanya satu kepada yang kemampuannya hanya mengelola 1 talenta. Mengenai bagaimana perkembangan selanjutnya, adalah tergantung pada ketaatan dan tanggung jawab masing-masing orang. Penilaian Allah tida terpengaruh oleh suara-suara orang banyak, apalagi oleh pengaruh orang-orang tertentu.
Selama kita di dalam dunia inilah kita dibentuk untuk menjadi umat Allah yang setia. Di sini kita dipersiapkan untuk menempati suatu kediaman yang kekal di sorga (2 Korintus 5:1). Karena itulah, kita harus terus berjuang, mengikuti petunjuk-petunjuk Allah dan menjalani kehidupan di dalam dunia ini sebagaimana yang IA kehendaki. Karena pada penghakiman terakhir, Anak Manusia akan datang sebagai Hakim, untuk mengumpulkan orang-orang yang selama hidupnya mau dibentuk, dan mengeliminasi mereka yang tidak memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan-Nya (Matius 25:31-46).
Komentar