Sudah ditanamkan kepada kami sejak kecil, bahwa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, anak yang sudah besar maupun yang masih kecil, harus turun tangan dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Maka sangat tidak nyamanlah bagi saya dan saudara-saudara saya, apabila kami duduk santai atau tiduran saja, sementara orang tua kami, mengerjakan sesuatu. Biasanya, kami akan menawarkan bantuan, sekecil apapun.
Memang, dengan bekerja bergotong royong, pekerjaan rumah tangga bisa cepat selesai. Tetapi saya perhatikan, rupanya maksud orang tua kami menanamkan hal itu bukan karena alasan pekerjaan itu begitu banyak, tetapi lebih kepada bagaimana menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kebersamaan di antara kami. Itu sebabnya kenapa kepada kami tidak melulu dituntut hasil, terutama bagi anak-anak yang masih kecil, sebab yang terpenting adalah bagaimana setiap orang di dalam keluarga bisa turut ambil bagian dalam pekerjaan itu.
Hal yang sama diharapkan terjadi di dalam kehidupan persekutuan orang Kristen. Seringkali orang tidak punya rasa tanggung jawab pada persoalan-persoalan persekutuan, karena berpikir bahwa, ia tidak bisa melakukan apa-apa, dan tidak punya apa-apa untuk disumbangkan bagi persekutuan. Ini biasanya sangat terasa dalam hal pembangunan gedung gereja. Orang yang merasa tidak punya uang, hanya duduk berpangku tangan saja. Biarlah orang-orang ber-ada saja yang menyumbang. Padahal kalau kita mau mengurut ke belakang: untuk apakah gedung dibangun, atau untuk apakah orang bersusah payah mengadakan kegiatan-kegaitan gerejawi kalau bukan untuk mempererat tali persekutuan antar sesama anggota?
Rasul Paulus berkata bahwa orang-orang kudus diperlengkapi untuk mengerjakan pekerjaan pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus. Dan tujuan pekerjaan pelayanan itu adalah agar kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:12,13). Apakah yang kita pakai untuk mengukur pencapaian tujuan itu? Mungkin tujuan itu tidak akan pernah tercapai selama kita masih hidup dalam dunia ini. Karena itu adalah proses yang berlangsung terus-menerus sepanjang kehidupan kita. Namun fokus Tuhan bukanlah pada hasilnya semata-mata, melainkan lebih pada proses itu. karena justru di dalam proses itulah setiap anggota memperoleh pertumbuhannya.
Memang, dengan bekerja bergotong royong, pekerjaan rumah tangga bisa cepat selesai. Tetapi saya perhatikan, rupanya maksud orang tua kami menanamkan hal itu bukan karena alasan pekerjaan itu begitu banyak, tetapi lebih kepada bagaimana menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kebersamaan di antara kami. Itu sebabnya kenapa kepada kami tidak melulu dituntut hasil, terutama bagi anak-anak yang masih kecil, sebab yang terpenting adalah bagaimana setiap orang di dalam keluarga bisa turut ambil bagian dalam pekerjaan itu.
Hal yang sama diharapkan terjadi di dalam kehidupan persekutuan orang Kristen. Seringkali orang tidak punya rasa tanggung jawab pada persoalan-persoalan persekutuan, karena berpikir bahwa, ia tidak bisa melakukan apa-apa, dan tidak punya apa-apa untuk disumbangkan bagi persekutuan. Ini biasanya sangat terasa dalam hal pembangunan gedung gereja. Orang yang merasa tidak punya uang, hanya duduk berpangku tangan saja. Biarlah orang-orang ber-ada saja yang menyumbang. Padahal kalau kita mau mengurut ke belakang: untuk apakah gedung dibangun, atau untuk apakah orang bersusah payah mengadakan kegiatan-kegaitan gerejawi kalau bukan untuk mempererat tali persekutuan antar sesama anggota?
Rasul Paulus berkata bahwa orang-orang kudus diperlengkapi untuk mengerjakan pekerjaan pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus. Dan tujuan pekerjaan pelayanan itu adalah agar kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:12,13). Apakah yang kita pakai untuk mengukur pencapaian tujuan itu? Mungkin tujuan itu tidak akan pernah tercapai selama kita masih hidup dalam dunia ini. Karena itu adalah proses yang berlangsung terus-menerus sepanjang kehidupan kita. Namun fokus Tuhan bukanlah pada hasilnya semata-mata, melainkan lebih pada proses itu. karena justru di dalam proses itulah setiap anggota memperoleh pertumbuhannya.
Komentar