Saudara sepupu teman saya pernah mengalami perampokan yang dilakukan oleh sopir taksi yang ditumpanginya, yang rupanya bekerja sama dengan tiga lelaki yang lain. Ia kehilangan semua uangnya, tetapi syukurlah ia tidak kehilangan nyawa. Berita tentang peristiwa itu diliput oleh beberapa stasiun televisi, tapi ada beberapa hal yang ia tidak ungkapkan di hadapan publik, kecuali kepada keluarga dan teman-teman dekat, yakni tentang isi pembicaraannya dengan 2 lelaki yang menawannya ketika dua lelaki yang lain sedang pergi ke ATM untuk mencairkan uangnya. Dalam percakapan itu, ia tahu bahwa ternyata si perampok adalah seorang anggota gereja, dan bahkan mereka juga tahu dan beberapa kali mengikuti kebaktian sebuah persekutuan di mana sepupu teman saya itu bergabung. Mungkin, itulah satu-satunya alasan mengapa ia tidak diperkosa atau dibunuh malam itu.
Kristen, memang bukan sekadar agama untuk menunjukkan identitas diri kita. Orang Kristen, bukan sekadar berarti menjadi anggota sebuah gereja atau suatu persekutuan. Kekristenan lebih merupakan sikap hidup, yakni sikap hidup yang dibangun di atas nilai-nilai hidup yang diajarkan Kristus. Ketika kita mengaku percaya kepada Kristus, maka kita pun harus menerima nilai-nilai hidup yang Yesus Kristus ajarkan. Melalui nilai-nilai hidup itulah, kita belajar bagaimana mengasihi, bagaimana menghadirkan damai sejahtera, bersikap lemah lembut, menguasai diri, sabar dalam kesulitan, dan semua yang telah Tuhan ajarkan di dalam kitab suci. Apabila nilai-nilai itu sudah menyatu dengan diri kita, maka akan terbentuklah sebuah sikap hidup. Sikap hidup itulah, yang menunjukkan kita orang Kristen, ataukah bukan.
Menjadi orang Kristen bukan selesai saat kita mengaku percaya kepada Yesus Kristus, melainkan sebuah ciri yang terlihat dari sikap hidup kita. Sehingga tanpa mengucapkan bahwa kita orang Kristen pun, apabila sikap hidup kita menunjukkan nilai-nilai yang diajarkan Kristus, maka orang akan mengerti bahwa kita adalah orang Kristen. Sebaliknya, sepanjang sikap hidup kita tidak menunjukkan nilai-nilai hidup yang Yesus Kristus ajarkan, maka kita tidak layak disebut pengikut-Nya. Sebab kata Tuhan Yesus dalam Matius 7:21. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”.
Kristen, memang bukan sekadar agama untuk menunjukkan identitas diri kita. Orang Kristen, bukan sekadar berarti menjadi anggota sebuah gereja atau suatu persekutuan. Kekristenan lebih merupakan sikap hidup, yakni sikap hidup yang dibangun di atas nilai-nilai hidup yang diajarkan Kristus. Ketika kita mengaku percaya kepada Kristus, maka kita pun harus menerima nilai-nilai hidup yang Yesus Kristus ajarkan. Melalui nilai-nilai hidup itulah, kita belajar bagaimana mengasihi, bagaimana menghadirkan damai sejahtera, bersikap lemah lembut, menguasai diri, sabar dalam kesulitan, dan semua yang telah Tuhan ajarkan di dalam kitab suci. Apabila nilai-nilai itu sudah menyatu dengan diri kita, maka akan terbentuklah sebuah sikap hidup. Sikap hidup itulah, yang menunjukkan kita orang Kristen, ataukah bukan.
Menjadi orang Kristen bukan selesai saat kita mengaku percaya kepada Yesus Kristus, melainkan sebuah ciri yang terlihat dari sikap hidup kita. Sehingga tanpa mengucapkan bahwa kita orang Kristen pun, apabila sikap hidup kita menunjukkan nilai-nilai yang diajarkan Kristus, maka orang akan mengerti bahwa kita adalah orang Kristen. Sebaliknya, sepanjang sikap hidup kita tidak menunjukkan nilai-nilai hidup yang Yesus Kristus ajarkan, maka kita tidak layak disebut pengikut-Nya. Sebab kata Tuhan Yesus dalam Matius 7:21. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”.
Komentar