Hidup kita hari-hari ini memang semakin terasa berat saja. Harga-harga kebutuhan pokok melambung semakin tinggi. Biaya pendidikan bagi anak-anak semakin tak terjangkau, sementara itu penghasilan kita mungkin tidak naik. Lapangan pekerjaan semakin sempit. Sawah dan ladang tidak bertambah hasilnya. Laut dan sungai-sungai pun semakin tercemar. Hidup menjadi terasa sesak dan menghimpit.
Situasi hidup kita saat ini pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan situasi yang dialami oleh bangsa Israel pada zaman Tuhan Yesus. Mereka juga adalah orang-orang yang miskin dan lemah. Dalam himpitan hidup mereka yang sulit, Tuhan Yesus berkata: Janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, atau apa yang hendak kamu pakai. Sebab siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (Matius 6:25-27).
Memang sungguh sulit bagi pikiran manusiawi kita untuk menerima kebenaran Firman Tuhan ini pada saat kenyataannya hidup kita sulit dan melarat. Sebab memang nasehat ini tidak boleh kita lepaskan dari ayat-ayat sebelumnya, yakni bahwa “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu!” dan bahwa “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:22-24). Mata yang baik, adalah mata yang memandang dengan cara Allah memandang. Orang yang memiliki mata yang baik, adalah orang yang memahami bahwa hidup yang sesungguhnya, bukanlah soal bagaimana kita bisa sekadar hidup, atau tetap bernapas, melainkan soal persekutuan yang kekal dengan Allah. Dan untuk memiliki persekutuan yang kekal itu, kita harus mencari serta melakukan kehendak Allah (Mat 6:33). Namun, Mamon berusaha menggelapkan mata kita, sehingga mata kita terhalang oleh kebutuhan-kebutuhan hidup yang sementara ini saja, dan tidak lagi bisa melihat persekutuan yang kekal itu. Mamon, membuat kita hanya memikirkan bagaimana supaya kita bisa tetap hidup dan bernapas, tanpa mempertimbangkan persekutuan dengan Allah. Karena itulah, pada saat kita percaya pada Mamon, maka kita mulai kuatir dan meragukan Allah.
Yakinlah bahwa hidup yang sesungguhnya adalah tinggal dalam persekutuan yang kekal dengan Allah. Kekurangan makanan, ketiadaaan pakaian, serta kebutuhan-kebutuhan lain dalam hidup ini, mungkin dapat merenggut nyawa kita, atau kenyamanan kita, tetapi tidak dapat merenggut kita dari hidup yang kekal itu! Jadi, apakah lagi yang perlu kita kuatirkan?
Situasi hidup kita saat ini pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan situasi yang dialami oleh bangsa Israel pada zaman Tuhan Yesus. Mereka juga adalah orang-orang yang miskin dan lemah. Dalam himpitan hidup mereka yang sulit, Tuhan Yesus berkata: Janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, atau apa yang hendak kamu pakai. Sebab siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (Matius 6:25-27).
Memang sungguh sulit bagi pikiran manusiawi kita untuk menerima kebenaran Firman Tuhan ini pada saat kenyataannya hidup kita sulit dan melarat. Sebab memang nasehat ini tidak boleh kita lepaskan dari ayat-ayat sebelumnya, yakni bahwa “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu!” dan bahwa “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:22-24). Mata yang baik, adalah mata yang memandang dengan cara Allah memandang. Orang yang memiliki mata yang baik, adalah orang yang memahami bahwa hidup yang sesungguhnya, bukanlah soal bagaimana kita bisa sekadar hidup, atau tetap bernapas, melainkan soal persekutuan yang kekal dengan Allah. Dan untuk memiliki persekutuan yang kekal itu, kita harus mencari serta melakukan kehendak Allah (Mat 6:33). Namun, Mamon berusaha menggelapkan mata kita, sehingga mata kita terhalang oleh kebutuhan-kebutuhan hidup yang sementara ini saja, dan tidak lagi bisa melihat persekutuan yang kekal itu. Mamon, membuat kita hanya memikirkan bagaimana supaya kita bisa tetap hidup dan bernapas, tanpa mempertimbangkan persekutuan dengan Allah. Karena itulah, pada saat kita percaya pada Mamon, maka kita mulai kuatir dan meragukan Allah.
Yakinlah bahwa hidup yang sesungguhnya adalah tinggal dalam persekutuan yang kekal dengan Allah. Kekurangan makanan, ketiadaaan pakaian, serta kebutuhan-kebutuhan lain dalam hidup ini, mungkin dapat merenggut nyawa kita, atau kenyamanan kita, tetapi tidak dapat merenggut kita dari hidup yang kekal itu! Jadi, apakah lagi yang perlu kita kuatirkan?
Komentar