Langsung ke konten utama

Apapun yang terjadi, bersyukurlah!

Suatu hari, dua orang anak sedang bermain di padang. Selagi mereka bermain, entah karena apa, tiba-tiba seekor banteng berlari ke arah mereka dengan marah. Kedua anak itu pun lari pontang panting. Kemudian mereka memanjat masing-masing sebuah pohon besar. Banteng itu menunggu di bawah, agaknya mereka tidak akan lolos. Maka salah seorang berteriak, “Lakukanlah sesuatu!” “Apa yang harus aku lakukan?” Balas temannya, “Aku sendiri sangat takut. Banteng itu tampaknya sangat marah.” “Kalau begitu, setidaknya berdoalah!” Teriak anak yang pertama. “Aku tidak pandai berdoa!” Jawab temannya dari jauh, “Tapi baiklah aku akan mengucapkan doa yang diucapkan ayahku setiap pagi: Ya Tuhan ajarlah kami bersyukur atas apapun yang akan terjadi hari ini!”


Kita memang tidak tahu apakah yang akan terjadi di dalam hidup kita hari ini ataupun esok hari. Kalau menyenangkan, mungkin kita akan bersyukur dengan segenap hati. Tetapi bagaimana kalau hari kita ternyata begitu buruk, atau hari esok demikian tak menentu? Masa depan ternyata tidak seindah yang kita harapkan? Tidakkah lucu apabila kita bersyukur saat kita berada dalam kesulitan dan ketidakpastian?


Marilah kita belajar dari kehidupan Raja Daud. Dari mazmur-mazmur yang digubahnya, sangat jelas terasa dekatnya hubungan Daud dengan Allah. Padahal hidup Daud itu penuh dengan penderitaan dan kesulitan. Raja Saul yang terus-menerus mengancam akan membunuhnya, membuat Daud harus hidup dalam pelarian selama bertahun-tahun. Hidupnya menjadi tak menentu, tak pernah tenteram. Kegelisahan selalu menjalari hatinya. Belum lagi ia dicemoohkan oleh orang-orang sebagai orang yang tidak dipedulikan oleh Tuhan, Allahnya (Mazmur 42:4).


Akan tetapi, dalam penderitaan dan kemelut hidup yang ia alami itu, Daud justru mengajar hatinya untuk senantiasa mengucap syukur kepada Allah. Sebab ia menyadari bahwa justru melalui kepahitan hidupnya itulah, kehidupan rohaninya dibangun lebih dalam daripada sebelumnya (Mazmur 42:6).


Kegembiraan, keberhasilan dan segala hal yang menyenangkan memang patut kita syukuri. Tetapi ingat, itu hanyalah satu sisi dari kasih Allah. Penderitaan dan kemelut hidup pun adalah sisi lain dari kasih Allah. Dan sama seperti berkat-berkat, Allah juga memakai penderitaan atau kemelut hidup kita untuk semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya. Jadi, memang, sebetulnya kita harus senantiasa bersyukur atas apapun yang akan terjadi!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dirhamku

ooo... kukira kau telah hilang blog ku sayang... secara tak sengaja kau kutemukan kembali. barangkali beginilah rasanya si wanita yang menemukan dirham yang hilang itu :D

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Baru Arak-arakan Saja!

Seorang anak lelaki dengan penuh semangat memberitahu ayahnya, bahwa hari Sabtu nanti akan ada pertunjukan sirkus di kota. Ia bertanya, “Apakah aku boleh pergi untuk menonton sirkus, Ayah?” Mereka adalah keluarga miskin, tetapi sang ayah merasa tidak sampai hati mengecewakan wajah yang bersinar-sinar penuh harap itu. Maka ia pun mengijinkan, dengan syarat anak itu harus menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Dan anak itu pun langsung berlari dengan riang mengerjakan tugas-tugasnya.... Ketika hari Sabtu tiba, pagi-pagi sekali ia sudah siap. Ia mengenakan pakaian terbaiknya, sepasang pakaian satu-satunya yang biasa dipakainya ke Sekolah Minggu, lalu menghadap ayahnya. Sang ayah memberinya uang dua puluh ribu rupiah dan melepaskannya pergi. Anak itu demikian gembiranya sehingga ia berlari seakan-akan kakinya tidak menyentuh tanah. Sesampainya di perbatasan, ia bertemu dengan parade sirkus. Waow! Ia memandang arak-arakan parade itu dengan takjub. Belum pernah ia melihat keramaian seperti i...