Langsung ke konten utama

Bebaskanlah dia!

Semua orang ingin bebas. Semua orang merindukan pengampunan dari kesalahan-kesalahan yang telah dibuatnya di masa yang lalu. Akan tetapi, tidak banyak orang yang mau dengan rela membiarkan orang lain menjadi bebas, bahkan banyak yang seolah-olah merasa puas bila melihat orang-orang tetap terikat dengan rasa bersalahnya, tertindih dalam beban kegagalan-kegagalannya.

Satu pelajaran yang sangat menarik dapat kita petik ketika Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian.... Kisahnya dapat Anda baca dalam Yohanes 11:1-44. Pada waktu Yesus memerintahkan untuk membuka kubur Lazarus, Marta, saudaranya, menyela dan berkata, “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati”... Marta, sungguh-sungguh menangisi kematian saudaranya itu, tetapi ketika Tuhan mau mengembalikannya, ia menyela, “Wah, Tuhan, tunggu dulu. Tubuhnya sudah berbau.... kalau ia pulang, bagaimana aku nantinya?

Adakah seseorang yang - ketika ia kembali ke dalam kehidupan Anda, Anda merasa harus berpikir dua kali untuk menerimanya? Tidakkah kehidupan Anda akan tercemari oleh “bau” orang itu nantinya? Mungkin orang itu adalah saudara Anda yang mantan narapidana, atau anak gadis Anda yang hamil di luar nikah, atau suami atau istri yang pernah berkhianat..... dan lain-lain....

Seperti Lazarus yang telah dibangkitkan, yang telah dibebaskan dari kuasa maut, namun ternyata masih terikat dengan kain kafan, mereka pun harus dilepaskan dari keterikatan-keterikatannya. Dan siapakah yang Tuhan perintahkan untuk melepaskan mereka dari keterikatan itu, dan membebaskannya pergi dan menjalani hidupnya lagi?... bukan Lazarus sendiri, dan bukan pula Yesus, melainkan orang-orang yang ada di sekitarnya! Jadi, Yesus hanya memberi kehidupan, tetapi Ia bukan yang mencopot kain kafan itu untuk membebaskannya. Orang-orang yang ada di sekitarnyalah yang Yesus minta untuk melakukannya.....

Hal yang sama juga berlaku bagi kita. Kita harus menjadi orang-orang yang melepaskan orang lain dari kain kafan ketakutan, kenangan yang menyakitkan, aib yang memalukan, kegelisahan, dan prasangka-prasangka negatif yang mengikat mereka. Pengampunan yang Allah telah berikan kepada kita berupa kebebasan serta kehidupan baru melalui Yesus Kristus, adalah kado yang harus kita bungkus kembali untuk kita berikan kepada orang lain yang membutuhkannya.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...