Langsung ke konten utama

Benar tetapi salah

Seorang buronan akhirnya ditemukan oleh seorang intel di sebuah warung. Intel tersebut menepuk pundak orang itu dan berkata, “Anda ditahan. Ikut aku!” Buronan itu terkejut bukan main, “Apa salahku?” bantahnya..... “Anda tahu kesalahan Anda. Anda melarikan diri dari penjara beberapa tahun yang lalu. Kemudian Anda berpindah-pindah tempat, dan akhirnya Anda tiba di tempat ini, Anda menikah dan bersikap sebagai orang baik-baik....” Jawab intel itu dengan tenang. “Kami telah melacak jejak Anda dan telah lama mengawasi Anda.”
Buronan itu tidak bisa membantah lagi dan akhirnya menyerah. Kemudian ia berkata, “Tapi... sebelum saya ditahan, ijinkanlah saya pulang dulu untuk berbicara dengan keluargaku.” Permintaannya dikabulkan tapi tetap dikawal ketat...... Sesampainya di rumah, dengan sengaja laki-laki itu bertanya kepada istrinya di hadapan intel, “Saya seorang suami yang baik; Saya telah bekerja keras untuk menghidupi keluarga; dan saya tidak pernah menyakitimu dan anak-anak, bukan?”

Istrinya memandangi suaminya dan intel itu bergantian dengan wajah bingung, “Tentu saja. Kamu adalah suami dan ayah yang baik..., tetapi apa maksud pertanyaan-pertanyaanmu itu?” Tanya istrinya. Suaminya kemudian menerangkan siapa sesungguhnya dirinya, dan apa yang telah dilakukannya di masa lalu..... Rupanya, lelaki itu berharap bahwa dengan membangun reputasi sebagai suami yang baik dan ayah yang bertanggung jawab, maka itu akan mengesankan pihak yang berwajib. Dengan harapan, dirinya akan dinilai berdasarkan kebaikan itu dan ia dibiarkan bebas dari hukuman. Akan tetapi, meskipun di hadapan keluarganya ia adalah orang baik, tetapi ia masih tetap bersalah di hadapan hukum. Dan ia tetap harus kembali ke penjara....


Begitulah perbedaan orang-orang yang berada di dalam Kristus dan di luar Kristus. Ketika kita masih berada di luar Kristus, kita mungkin adalah orang yang cukup benar dan baik di hadapan manusia..., tetapi di hadapan Allah, masih ada urusan yang harus kita selesaikan. Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di luar Kristus, tidak bisa begitu saja meluruhkan dosa-dosa kita.... Sebab hanya dengan mengakui Kristuslah, kita dibenarkan. Inilah yang Rasul Paulus katakan dalam Roma 3:28, manusia dibenarkan hanya karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum-hukum Taurat.....!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...