Langsung ke konten utama

Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan!

Ada kisah mengenai sebuah keluarga yang hidup bahagia di sebuah kota kecil bernama Dakota. Meskipun kehidupan mereka sangat sederhana dan sang ibu tidak begitu sehat, tetapi para tetangga dapat melihat kemesraan kasih mereka, ketika ayah, Ibu dan kedua anak kecilnya berkumpul dan bersenda gurau di halaman rumah. Tidak jarang kehangatan keluarga itu mengundang senyum iri dari orang-orang lewat dan menyaksikan kebahagiaan mereka.

Sampai suatu hari, entah siapa yang menghembuskannya, di desa itu tersebar fitnah yang mengatakan bahwa sang ayah tidak setia kepada istrinya. Fitnah itu akhirnya sampai ke telinga sang istri. Dan sang istri, akal sehatnya dikuasai oleh rasa cemburu sekaligus malu. Ia tidak tahan menanggung aib yang sebenarnya tidak ada.... Sehingga terjadilah peristiwa naas itu....

Pada suatu malam, ketika sang suami pulang ke rumah, tidak ada seorang pun yang menyambutnya di pintu, tidak ada senda gurau anak-anak, tidak ada bau harum masakan dari dapur – yang ada hanya rasa dingin yang mencekam..... Sang ayah menemukan tiga orang yang dicintainya tergantung pada balok melintang yang ada di atas ruangan di lantai bawah. Ternyata istrinya, karena merasa sakit hati dan putus asa, menggantung kedua anaknya lebih dahulu kemudian menggantung dirinya sendiri... Di kemudian hari, sang ayah baru tahu, bahwa itu terjadi akibat fitnah yang keji atas dirinya. Tapi apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Keluarga yang bahagia itu berakhir dengan tragedi yang memilukan!

Ada banyak orang yang suka begitu saja melontarkan kata-kata tuduhan, tanpa memikirkan akibat yang mungkin ditimbulkannya. “Memang lidah tak bertulang” kata mereka membenarkan diri. Tanpa memikirkan bahwa di sana reputasi seseorang dipertaruhkan, kehidupan seseorang sedang terancam hancur...
Benar kata Yakobus 3:6 Lidah adalah api, yang dinyalakan oleh api neraka; ia dapat menjadi jahat dan dapat menodai seluruh tubuh serta membakar hangus kehidupan kita. Sebab itu,

Firman Tuhan dalam Imamat 19:16 mengingatkan kita: “Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Tetapi..., kata 1 Petrus 3:10 "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...