Ada kisah mengenai seekor anak kerang di dasar laut. Ia datang mengadu dan mengaduh kepada ibunya. Sebutir pasir tajam bagai sembilu, memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. “Anakku,” kata sang ibu sambil mencucurkan air mata, “Tuhan tidak memberikan kepada kita – bangsa kerang – sebuah tanganpun, sehingga ibu tidak bisa menolongmu. Sakit sekali, ibu tahu anakku. Namun terimalah itu sebagai takdir alam. Jadi, kuatkanlah hatimu, Nak. Jangan lagi terlalu lincah. Kerahkanlah semangatmu untuk melawan rasa ngilu itu. tegarkanlah jiwamu untuk menanggung nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa engkau perbuat anakku,” bujuk ibunya dengan lembut namun pilu.
Si anak kerang itu pun mencoba menuruti nasihat bundanya. Ada hasilnya memang, namun perih-pedih tak alang kepalang. Kadang-kadang di tengah erang kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Namun, tak ada pilihan lain. Ia harus terus bertahan. Dan dengan banyak air mata ia berusaha tegar, mengukuhkan hati, menguatkan jiwa, berbulan-bulan lamanya... Tanpa disadarinya, sebutir mutiara mulai terbentuk di dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Kian lama kian bulat. Dan rasa sakitnya pun semakin berkurang. Bersamaan dengan Mutiara itu yang semakin terbentuk. Rasa sakitnya pun kini bahkan terasa biasa. tak lama kemudian, sebutir mutiara besar, utuh, dan mengkilap terbentuk sempurna di dalam dirinya.
Si anak kerang akhirnya berhasil mengubah pasir menjadi mutiara. Deritanya berubah menjadi mahkota kemuliaan. Air matanya kini menjadi harta yang sangat berharga. Dirinya sekarang, sebagai bentukan nestapa, lebih berharga daripada sejuta kerang lainnya yang cuma berakhir dengna nasib sebagai kerang rebus. Pedih-perihnya dulu membuatnya menjadi perhiasan mahal yang menambah kejelitaan para perempuan kaya.
Penderitaan si anak kerang, adalah juga penderitaan Yesus Kristus yang telah mati demi menanggung dosa-dosa kita. Tangisan si anak kerang, mengingatkan kita pada jerit lirih Tuhan di Taman Getsemani, tetapi lihatlah kemuliaan yang diperolehNya berkat kesetiaan dan ketabahanNya.... Demikian juga dengan kita. Bila dalam penderitaan kita tetap tabah dan setia pada Firman Tuhan, maka penderitaan itu akan menghasilkan iman yang bahkan lebih indah dan lebih berharga daripada mutiara dari laut terdalam!!
Si anak kerang itu pun mencoba menuruti nasihat bundanya. Ada hasilnya memang, namun perih-pedih tak alang kepalang. Kadang-kadang di tengah erang kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Namun, tak ada pilihan lain. Ia harus terus bertahan. Dan dengan banyak air mata ia berusaha tegar, mengukuhkan hati, menguatkan jiwa, berbulan-bulan lamanya... Tanpa disadarinya, sebutir mutiara mulai terbentuk di dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Kian lama kian bulat. Dan rasa sakitnya pun semakin berkurang. Bersamaan dengan Mutiara itu yang semakin terbentuk. Rasa sakitnya pun kini bahkan terasa biasa. tak lama kemudian, sebutir mutiara besar, utuh, dan mengkilap terbentuk sempurna di dalam dirinya.
Si anak kerang akhirnya berhasil mengubah pasir menjadi mutiara. Deritanya berubah menjadi mahkota kemuliaan. Air matanya kini menjadi harta yang sangat berharga. Dirinya sekarang, sebagai bentukan nestapa, lebih berharga daripada sejuta kerang lainnya yang cuma berakhir dengna nasib sebagai kerang rebus. Pedih-perihnya dulu membuatnya menjadi perhiasan mahal yang menambah kejelitaan para perempuan kaya.
Penderitaan si anak kerang, adalah juga penderitaan Yesus Kristus yang telah mati demi menanggung dosa-dosa kita. Tangisan si anak kerang, mengingatkan kita pada jerit lirih Tuhan di Taman Getsemani, tetapi lihatlah kemuliaan yang diperolehNya berkat kesetiaan dan ketabahanNya.... Demikian juga dengan kita. Bila dalam penderitaan kita tetap tabah dan setia pada Firman Tuhan, maka penderitaan itu akan menghasilkan iman yang bahkan lebih indah dan lebih berharga daripada mutiara dari laut terdalam!!
Komentar