Langsung ke konten utama

Mata Allah

Masih jelas dalam ingatan saya, dulu semasa kecil, bila ada banyak orang lain disekitar kami, maka setiap kali saya mau melakukan sesuatu, atau bila seseorang menyodorkan sesuatu, atau bila saya ingin menyentuh sesuatu, saya merasa harus selalu melihat ke mata ibu saya. Saya akan mengerti, hanya dari sinar matanya, apakah saya dibolehkan ataukah tidak.... Ya, Anda pun mungkin juga pernah berhasil menuntun seseorang melakukan sesuatu hanya dengan mata Anda. Melalui mata, kita memang dapat memberikan persetujuan, menunjukkan sebuah peringatan, ataupun mengkomunikasikan cinta. Kita semua dapat belajar memahami apa yang orang lain katakan melalui matanya.


Ternyata dengan cara yang sama, Allah menuntun kita. Pemazmur dalam Mazmur 32:8 mengatakan, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu!”


Mata Allah sedang tertuju kepada Anda, kepada kita semua. Mata Allah senantiasa mengawasi gerak-gerik kita. Sesungguhnya, waktu-waktu kebersamaan kita dengan Tuhan di dalam doa adalah saat dimana kita memandang mata Allah. Pada saat kita berdoa, pada saat kita masuk ke dalam persekutuan yang intim itu dengan Allah, kita bagaikan sedang dibimbing oleh mata Allah. Pada saat itulah Allah menunjukkan reaksi-Nya terhadap apa yang sudah kita lakukan, atau persetujuan dan penolakannya pada apa yang sedang kita rencanakan. Atau, mungkin juga, Allah menggerakkan mata-Nya kepada orang-orang atau kepada situasi-situasi di mana Ia ingin kita berpaling dan memberi perhatian. Dengan mata-Nya itu Tuhan membimbing kita.


Apabila kita menjalani hidup ini dengan tanpa pernah memandang mata Allah, tanpa pernah meminta petunjuk dan nasehat dari-Nya, maka hidup ini akan terasa sangat berat memang, bahkan kita akan runtuh karena tekanan-tekanan kehidupan ini. Namun, apabila kita sadar, bahwa Tuhan pun sedang bekerja mengerjakan rencana-Nya di dalam kehidupan kita, dan kita mau melibatkan Dia di dalam setiap persoalan kita, maka kita tidak perlu kuatir dan bingung lagi. Karena itu, temuilah Allah di dalam keheningan doa Anda, biarkan mata hati Anda mengikuti kemana mata Tuhan menuntun Anda. Jangan ada keraguan, ikutilah tuntunan-Nya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...