Langsung ke konten utama

Mengapa masih harus berdoa?

Mungkin Anda pun pernah berpikir atau bertanya demikian, mengapa kita masih harus berdoa? Bukankah Tuhan Mahatahu segalanya? Bukankah Tuhan sudah mengerti kebutuhan kita bahkan sebelum mulut kita mengucapkannya? Kenapa Tuhan tidak memberikannya saja apa yang terbaik buat hidup kita?


Kitab Suci kita memberikan empat alasan mengapa kita masih harus berdoa: Yang Pertama, kita berdoa karena Allah sendiri yang telah mendorong kita untuk berdoa. Berdoa bukan dimulai ketika kita menundukkan kepala dan masuk ke hadirat Allah.... Jauh sebelum kita berpikir untuk berdoa, Allah sudah menyiapkan kita untuk berdoa. Sama seperti si anak hilang yang kepulangannya bukan terhitung saat ia muncul di depan pintu, melainkan bahkan sebelum ia melangkahkan kaki untuk pulang... itu sebabnya Bapanya langsung menyongsong dia sejak baru tampak dari jauh. Berarti Doa itu sendiri adalah jawaban untuk kita. Jadi, jawaban doa kita itu sudah siap sejak saat kita tergerak untuk berdoa!


Kedua, kita berdoa adalah untuk menerima rencana Allah, dan bukan untuk mengubahnya. Ketika kita berdoa, maka sebetulnya kita sedang mendengarkan Allah, bukan berupaya untuk mempengaruhi Allah agar mengubah pikiran Allah dan Allah yang mengikuti pikiran kita. Ketiga, kita berdoa karena Allah telah menetapkan, bahwa pada-Nya ada sumber kuasa dan kasih yang tidak akan Allah berikan sampai kita berdoa..... Seperti dalam kisah si anak hilang. Allah Bapa sudah menyediakan pengampunan, tetapi pengampunan itu tidak akan diterima sampai si anak pulang kembali dan memohonnya. Jadi, memang Allah sering menahan berkat anugerah-Nya sampai kita berdoa. Ia ingin agar kita datang kepada-Nya sebagai anak-anak untuk berkomunikasi dengan Dia.


Terakhir, kita harus berdoa, sebab ketika kita berdoa kepada Allah, Bapa kita, kita disatukan di dalam suatu ikatan persaudaraan yang paling erat dengan sesama. Allah berusaha untuk membawa kita lebih dekat seorang kepada yang lain melalui doa. Allah kadang-kadang menahan banyak berkat-Nya sampai kita berkumpul dan saling mendoakan.... Jadi, bila disimpulkan, maka bisa dikatakan bahwa kita berdoa karena Allah menghedaki berkomunikasi dengan kita. Allah ingin kita berpartisipasi dalam apa yang Ia ingin lakukan dalam hidup kita! Saudara, Tidakkah itu indah? Makanya Allah ingin kita tetap selalu berdoa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...