Langsung ke konten utama

Siapa yang curang?

Pernahkah Anda mendapati bahwa Anda telah dicurangi atau ditipu orang? Bagaimanakah rasanya? Ada teman kuliah saya dulu, yang paling suka mencurangi orang. Bila ia ketahuan, dengan tanpa rasa bersalah ia akan tertawa terbahak-bahak. Sepertinya ia sangat menikmati kecurangannya itu, dan suatu kepuasan tersendiri baginya bila ia berhasil membuat orang marah atau kecele. Orang yang menjadi korban pun kadang-kadang hanya bisa tersenyum kecut.... Tapi, suatu hari ia mendapat batunya! Seseorang mencuranginya. Kami pikir, seperti biasa ia akan tertawa terbahak-bahak sambil mengakui kebodohannya. Tapi nyatanya, reaksinya sungguh di luar dugaan. Ternyata ia sangat marah!

Memang begitulah manusia. Setiap kita ingin diperlakukan dengan yang terbaik, setiap kita ingin semua orang jujur terhadap kita, tetapi apakah kita selalu tetap baik dan jujur kepada orang lain? .... Ada kisah mengenai seorang pembuat roti dan seorang penjual mentega. Mereka bertetangga dan memiliki sebuah hubungan dagang yang saling menunjang. Suatu hari, si tukang roti curiga, bahwa mentega yang ia beli dari pedagang mentega itu selalu tidak sesuai dengan timbangannya.... Selama beberapa hari, ia menimbang mentega yang dibelinya dan mendapati bahwa memang benar, mentega itu selalu kurang dari berat yang sebenarnya. Ia pun marah, dan ia pergi mengadukan si penjual mentega ke pengadilan. Maka dipanggillah si penjual mentega untuk diadili. “Coba, mari saya periksa timbangan Anda.” Ujar sang Hakim kepada si penjual mentega. “Saya tidak memiliki timbangan Tuan.” Jawabnya. “Lalu bagaimana Anda menimbang mentega yang Anda jual?” “Begini Tuan. Setiap kali tukang roti itu membeli mentega dari saya, saya pun membeli roti dari dia. Nah, saya memakai roti yang katanya seberat satu kilo itu untuk mengukur mentega yang saya jual. Jadi..., jika mentega yang ia beli dari saya tidak cukup satu kilo, berarti dia sendiri yang harus disalahkan.”

Kecurangan adalah kejahatan yang keji di mata Tuhan. Sebaliknya, Tuhan berjanji bahwa Ia akan selalu berada di pihak orang benar dan jujur. Dalam Mazmur 32:10 Tuhan berkata: “Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada TUHAN dikelilingi-Nya dengan kasih setia. Karena itu, bersukacitalah dalam TUHAN hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...