Langsung ke konten utama

Tunggu, sebentar lagi!

Ini adalah kata-kata yang paling sering terdengar bila kita mengajak orang kembali ke jalan Tuhan, “Tunggu, sebentar lagi!” Waktu adalah sesuatu yang sama misteriusnya dengan masa depan. Anda mungkin tidak akan tahu apa artinya waktu semenit sampai Anda ketinggalan kereta karena terlambat satu menit. Saya pernah dengan penuh rasa kecewa memandangi bagian belakang bis favorit saya, sambil dalam hati saya mengumpat diri saya sendiri. Andai saya tidak kembali lagi untuk melihat tata rias saya, andai tadi saya tidak melambatkan langkah untuk memberesi isi tas saya penuh - pastilah bis itu bisa saya dapatkan. Padahal, kedua hal itu saya lakukan tidak lebih dari satu menit!

Ketika terjadi peristiwa kebakaran Hotel di suatu kota pada dini hari tahun 1947, ada lebih dari 200 orang yang terluka parah, dan sekitar 60 orang korban jiwa. Dan di antara pada korban yang tewas itu, terdapat satu kisah tragis yang terjadi hanya beberapa menit sebelum kejadian.
Sebelum api mengamuk, dari salah satu kamar, seorang usahawan dari Chicago, Amerika Serikat, sempat menelepon istrinya dan memberitahu bahwa ia sedang bermain kartu dengan kawan-kawannya. Saat itu, istrinya berkukuh menyuruhnya segera pulang. Namun usahawan itu memohon supaya diberi kesempatan satu putaran lagi. Tetapi sebelum satu putaran itu selesai, api telah berkobar... Para regu penolong menarik tubuhnya yang hangus terbakar dari puing-puing hotel itu keesokan harinya.

Berapa lamakah waktu untuk menghabiskan satu putaran dalam permainan kartu? Bayangkanlah, hanya karena ia minta waktu satu putaran itu, seseorang tidak terselamatkan dari maut. Karena tidak ada seorangpun manusia yang mengetahui kapan maut menjemput, maka yang kita perlu lakukan adalah tetap waspada. "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya”. kata Rasul Paulus dalam Kisah Rasul 1:7; sebagaimana Tuhan Yesus juga telah katakan, Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. (Matius 24:43). Allah ingin kita segera berlari pulang kepada-Nya sekarang juga! Menunda-nunda waktu adalah keinginan si Jahat. Sedetik saja kita terlambat, tak ada lagi waktu untuk kembali!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...