Seorang anak lelaki dengan penuh semangat memberitahu ayahnya, bahwa hari Sabtu nanti akan ada pertunjukan sirkus di kota. Ia bertanya, “Apakah aku boleh pergi untuk menonton sirkus, Ayah?” Mereka adalah keluarga miskin, tetapi sang ayah merasa tidak sampai hati mengecewakan wajah yang bersinar-sinar penuh harap itu. Maka ia pun mengijinkan, dengan syarat anak itu harus menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Dan anak itu pun langsung berlari dengan riang mengerjakan tugas-tugasnya.... Ketika hari Sabtu tiba, pagi-pagi sekali ia sudah siap. Ia mengenakan pakaian terbaiknya, sepasang pakaian satu-satunya yang biasa dipakainya ke Sekolah Minggu, lalu menghadap ayahnya. Sang ayah memberinya uang dua puluh ribu rupiah dan melepaskannya pergi.
Anak itu demikian gembiranya sehingga ia berlari seakan-akan kakinya tidak menyentuh tanah. Sesampainya di perbatasan, ia bertemu dengan parade sirkus. Waow! Ia memandang arak-arakan parade itu dengan takjub. Belum pernah ia melihat keramaian seperti itu. Apalagi melihat secara langsung binatang-binatang buas, pemain band dengan pakaian warna-warni, orang-orang cebol dengan akrobat-akrobatnya, dan ia tertawa geli ketika pada bagian paling akhir arak-arakan itu muncul badut-badut dengan sepatu kebesaran, pakaian kedodoran, dan wajah dicat tebal. Anak itu merogoh sakunya lalu memberikan uangnya itu kepada salah seorang badut.... kemudian ia pun berlari pulang.... Apa yang terjadi? Rupanya, anak laki-laki itu mengira dia sudah melihat sirkus, padahal ia baru melihat arak-arakannya saja!
Seperti itulah banyak orang Kristen. Banyak orang yang hanya tertarik dengan mujizat-mujizat ilahi. Mereka bekerja keras, penuh semangat, dan lalu puas dengan keramaian orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka dengan takjub memandang keajaiban-kejaiban kasih Allah, dan mereka menyangka sudah melihat pertunjukan Allah. Padahal apa yang dilihatnya baru permulaannya saja...
Segala yang Allah lakukan di dalam kehidupan kita di dunia ini, baru permulaan, baru arak-arakannya saja. Pertunjukan yang sebenarnya belum tiba. Pertunjukan itu akan kita saksikan pada saat kedatangan Kristus yang kedua nanti. Karena itu, sambil menantikan kedatangan Tuhan tetaplah setia dalam perjalanan iman, bertekunlah dalam doa, dan tetaplah kerjakanlah keselamatan Anda, (Filipi 2:12).
Komentar
Mungkin serupa dengan kegembiraan menyaksikan atraksi yang dipertunjukan oleh tukang obat disini yaa...