Seorang ibu berjalan tertatih-tatih menenteng belanjaannya dari pasar. Rumahnya sebetulnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi ia merasa tidak sanggup menempuhnya dengan beban yang seberat itu. Maka ketika sebuah mobil angkutan lewat, ia pun naik. Tetapi ia masih memangku semua belanjaannya itu dan mengeluh karena pahanya pegal. Kenapa tidak diletakkan saja, Bu? Tanya seorang perempuan muda. “Ah, repot kalau nanti mau turun harus memungutnya lagi satu per satu,” Jawab si ibu.
Ini adalah seperti yang hampir kita semua lakukan. Kita sudah naik ke dalam kendaraan Anugerah Allah, kendaraan yang bertujuan untuk meringankan beban kita, tetapi kita masih menyusahkan diri dengan memikul beban kita itu. Kita tidak mau melepaskan semua persoalan-persoalan yang membebani kita dan menyerahkannya kepada Allah.
Apakah beban yang paling memberatkan punggung hidup Anda? Rasa sakit hati atas kesalahan-kesalahan orang lain? Rasa bersalah kepada diri sendiri? Banyak orang yang tidak mau membuang semuanya itu dengan mengampuni. Banyak yang tidak bersedia melupakan peristiwa menyakitkan itu. Banyak yang tetap membawa kenangan akan kegagalan-kegagalan masa lalu dirinya dan kesalahan orang-orang lain pada punggungnya – sepanjang jalan.
Anda pikirkan, siapakah orang yang paling Anda sayangi? Ketahuilah, Allah menyayangi orang itu jauh lebih dalam daripada yang Anda dapat lakukan. Sekarang, pikirkanlah, siapakah yang paling Anda benci? Ketahuilah, dan sadarilah, bahwa Allah pun mengasihi orang itu sama seperti Allah mengasihi Anda. Orang itu adalah milik Allah, sama seperti Anda juga adalah milik Allah. Jadi, mengapakah kita masih juga menyiksa diri kita dengan tetap menyimpan beban sakit hati di dada kita sendiri?
Ampunilah dan lupakanlah! Mungkin Anda berkata, mana mungkin aku bisa melupakan peristiwa menyakitkan itu? Lukanya bahkan belum sembuh, bekasnya takkan mungkin hilang! Memang, yang dimaksud dengan melupakan, bukan berarti menghapus semua memori yang berhubungan dengan peristiwa itu dari otak kita, dan lalu berpura-pura tidak tahu-menahu tentangnya, atau pelakunya. Melupakan ialah, ketika kita mengingat peristiwa itu lagi, kita tidak lagi merasa sakit.... Sebab semua beban rasa sakit itu sudah kita serahkah kepada Allah!
Komentar