Langsung ke konten utama

Mengampuni adalah Melupakan!



Seorang ibu berjalan tertatih-tatih menenteng belanjaannya dari pasar. Rumahnya sebetulnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi ia merasa tidak sanggup menempuhnya dengan beban yang seberat itu. Maka ketika sebuah mobil angkutan lewat, ia pun naik. Tetapi ia masih memangku semua belanjaannya itu dan mengeluh karena pahanya pegal. Kenapa tidak diletakkan saja, Bu? Tanya seorang perempuan muda. “Ah, repot kalau nanti mau turun harus memungutnya lagi satu per satu,” Jawab si ibu.


Ini adalah seperti yang hampir kita semua lakukan. Kita sudah naik ke dalam kendaraan Anugerah Allah, kendaraan yang bertujuan untuk meringankan beban kita, tetapi kita masih menyusahkan diri dengan memikul beban kita itu. Kita tidak mau melepaskan semua persoalan-persoalan yang membebani kita dan menyerahkannya kepada Allah.


Apakah beban yang paling memberatkan punggung hidup Anda? Rasa sakit hati atas kesalahan-kesalahan orang lain? Rasa bersalah kepada diri sendiri? Banyak orang yang tidak mau membuang semuanya itu dengan mengampuni. Banyak yang tidak bersedia melupakan peristiwa menyakitkan itu. Banyak yang tetap membawa kenangan akan kegagalan-kegagalan masa lalu dirinya dan kesalahan orang-orang lain pada punggungnya – sepanjang jalan.


Anda pikirkan, siapakah orang yang paling Anda sayangi? Ketahuilah, Allah menyayangi orang itu jauh lebih dalam daripada yang Anda dapat lakukan. Sekarang, pikirkanlah, siapakah yang paling Anda benci? Ketahuilah, dan sadarilah, bahwa Allah pun mengasihi orang itu sama seperti Allah mengasihi Anda. Orang itu adalah milik Allah, sama seperti Anda juga adalah milik Allah. Jadi, mengapakah kita masih juga menyiksa diri kita dengan tetap menyimpan beban sakit hati di dada kita sendiri?


Ampunilah dan lupakanlah! Mungkin Anda berkata, mana mungkin aku bisa melupakan peristiwa menyakitkan itu? Lukanya bahkan belum sembuh, bekasnya takkan mungkin hilang! Memang, yang dimaksud dengan melupakan, bukan berarti menghapus semua memori yang berhubungan dengan peristiwa itu dari otak kita, dan lalu berpura-pura tidak tahu-menahu tentangnya, atau pelakunya. Melupakan ialah, ketika kita mengingat peristiwa itu lagi, kita tidak lagi merasa sakit.... Sebab semua beban rasa sakit itu sudah kita serahkah kepada Allah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benih Sang Kaisar

Kata orang, di dunia ini tidak ada tempat bagi orang jujur. Benarkah? Coba Anda simak kisah berikut ini... Konon, ada seorang kaisar yang ingin mencari penggantinya. Tetapi dia tidak mau memilih dari para pembantu dekatnya atau bahkan dari anak-anaknya sendiri. Ia melakukan sesuatu yang lain. Kaisar itu memanggil semua anak muda di kerajaannya untuk berkumpul, dan ia mengumumkan, bahwa ia akan memilih kaisar baru dari antara anak-anak muda itu. Mendengar itu, anak-anak muda itu pun terkejut bukan main! “saya akan memberi kalian masing-masing satu biji benih.” Lanjut sang Kaisar. “Ingat, hanya satu benih. Dan saya memberi kalian waktu satu tahun! Tahun depan, saya harap kalian datang kembali ke sini dan saya akan melihat apa yang sudah kalian hasilkan dari benih itu. Saya akan menilai tanaman yang kalian bawa. Siapa yang memiliki tanaman yang saya pilih, orang itulah yang akan menggantikan saya menjadi kaisar!” Di antara anak-anak muda itu, ada seorang anak bernama Ling. Ia pun pulang d...

Berhentilah Mengeluh; Mulailah Mengakui!

Siapakah yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya? Pada masa-masa sulit, kita lebih suka mengeluh daripada mengakui. Kita mengeluh karena pekerjaan yang terlalu berat, mengeluh karena kekurangan-kekurangan kita, mengeluh karena masalah yang terlalu banyak... Tetapi tahukah Anda, bahwa mengeluh hanya menghalangi mata kita untuk melihat masalah secara keseluruhan, sehingga menyulitkan kita untuk mencari pemecahannya? Mazmur 39, yang diberi judul “Mazmur minta tolong”, memberi kita teladan tentang bagaimana kita menghadapi kehidupan ini dengan tidak hanya mengeluh, melainkan dengan mulai mengakui..... Mengeluh dan mengakui adalah dua cara berbeda untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Apabila kita menghadapi masalah dengan mengeluh, maka seperti kata Pemazmur: Hati kita akan bergejolak, menyala seperti nyala api (Maz 39:4). Mengeluh, hanya akan membuat kita semakin gelisah dan tidak tenang. Namun, ketika kita mulai mengakui, seperti pemazmur yang mengakui betapa setiap...

Doa, Bukan Sekadar Meminta

Beberapa kali, keluarga kami mendapat undangan pernikahan yang mencantumkan tulisan yang berbunyi begini: Terima kasih bila Anda memberi uang bukan kado. Padahal dulu orang hanya akan berkata, kehadiran Anda adalah harapan kami, bukan hadiah Anda. Pada kalimat yang pertama, para tamu diundang seolah-olah hanya demi bingkisannya, tetapi pada ucapan yang kedua, benar-benar yang ditonjolkan bahwa yang diharapkan adalah agar para sanak dan kerabat turut merasakan sukacita yang kedua mempelai rasakan. Di sini yang dipentingkan adalah hubungannya, dan bukan pemberiannya. Demikian jugalah dengan Allah, Tuhan kita. Allah menjanjikan berkat-berkat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, tetapi yang Allah inginkan dari kita adalah hubungan. Allah memberi kita berkat-berkat, supaya kita datang kepada-Nya, mencari Dia, tapi bukan untuk mencari kekayaan atau berkat-berkat materi yang lebih banyak. Allah memberi kita berkat-berkat-Nya, karena Ia menginginkan suatu hubungan yang lebih berkualit...